Kurs dolar AS yang merosot ke angka Rp 14.170 berdampak positif dari sisi produsen makanan dan minuman. Alasannya, produsen makanan dan minuman sangat tergantung terhadap impor bahan baku seperti gula, terigu, gandum, hingga garam. Bila dolar menguat, produsen menjerit karena penjualan dilakukan dalam bentuk rupiah sementara biaya bahan baku butuh dolar.
"Memang berpengaruh terhadap biaya produksi karena bahan baku makanan minuman mayoritas impor. Kita percaya pemerintah bisa atasi ini. Pemerintah sudah melakukan upaya dengan paket kebijakan 1-2 kemudian ada paket berikutnya," kata Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman saat diskusi Invest ASEAN 2015, Jakarta, Selasa (6/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan harga keputusan akhir. Industri makanan minuman besar dan menengah punya stok bahan baku 1 bulan, produk jadi 1 bulan, ditambah barang di pasar 2 minggu jadi tahan 2,5 bulan. Dolar naik terus. Mungkin Desember revisi tapi itu jalan terakhir," katanya.
Mayoritas produsen makanan dan minuman Indonesia, kata Adhi, masih tergantung bahan baku impor bahkan ada yang 100% bahan baku harus didatangkan dari luar negeri. Industri dalam negeri belum mampu memasok bahan baku makanan minum secara mayoritas karena terbentuk masalah lahan, bibit hingga teknologi.
"Tergantung industri seperti terigu dan gula impor 100%. Kalau susu dan kedelai 70%. Flavour konsentrat 60-70%," ujarnya.
(feb/hen)











































