Dolar di Atas 14.000, Produsen Makanan Tetap Tahan Harga

Dolar di Atas 14.000, Produsen Makanan Tetap Tahan Harga

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2015 16:08 WIB
Dolar di Atas 14.000, Produsen Makanan Tetap Tahan Harga
Jakarta - Pengusaha makanan dan minuman Indonesia di bawah Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) senang melihat tren pergerakan positif nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mereka masih menahan harga produk meski dolar di atas Rp 14.000, asalkan tak sampai Rp 15.000.

Kurs dolar AS yang merosot ke angka Rp 14.170 berdampak positif dari sisi produsen makanan dan minuman. Alasannya, produsen makanan dan minuman sangat tergantung terhadap impor bahan baku seperti gula, terigu, gandum, hingga garam. Bila dolar menguat, produsen menjerit karena penjualan dilakukan dalam bentuk rupiah sementara biaya bahan baku butuh dolar.

"Memang berpengaruh terhadap biaya produksi karena bahan baku makanan minuman mayoritas impor. Kita percaya pemerintah bisa atasi ini. Pemerintah sudah melakukan upaya dengan paket kebijakan 1-2 kemudian ada paket berikutnya," kata Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman saat diskusi Invest ASEAN 2015, Jakarta, Selasa (6/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

GAPMMI masih tahan bila kurs rupiah seperti saat ini yang di atas Rp 14.000/US$. Produsen makanan minuman besar memiliki batas toleransi dolar Rp 15.000. Bila telah lewat batas itu, produsen membuka opsi menaikkan harga produk.

"Kenaikan harga keputusan akhir. Industri makanan minuman besar dan menengah punya stok bahan baku 1 bulan, produk jadi 1 bulan, ditambah barang di pasar 2 minggu jadi tahan 2,5 bulan. Dolar naik terus. Mungkin Desember revisi tapi itu jalan terakhir," katanya.

Mayoritas produsen makanan dan minuman Indonesia, kata Adhi, masih tergantung bahan baku impor bahkan ada yang 100% bahan baku harus didatangkan dari luar negeri. Industri dalam negeri belum mampu memasok bahan baku makanan minum secara mayoritas karena terbentuk masalah lahan, bibit hingga teknologi.

"Tergantung industri seperti terigu dan gula impor 100%. Kalau susu dan kedelai 70%. Flavour konsentrat 60-70%," ujarnya.

(feb/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads