Curhat Pengusaha Tekstil ke Jokowi: Pakaian Impor Ilegal Banjiri Pasar

Curhat Pengusaha Tekstil ke Jokowi: Pakaian Impor Ilegal Banjiri Pasar

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2015 15:20 WIB
Curhat Pengusaha Tekstil ke Jokowi: Pakaian Impor Ilegal Banjiri Pasar
Jakarta - Pengusaha tekstil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengeluhkan masih maraknya pakaian impor ilegal masuk ke pasar dalam negeri. Hal ini tentunya sangat merugikan para pengusaha dalam kondisi perekonomian yang tengah lesu.

Hal ini menjadi salah satu poin yang disampaikan Ketua Umum API Ade Sudrajat saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo yang didampingi oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin di Istana Negara, Jakarta (7/10/2015)

"Pertama barangkali yang kami keluhkan adalah tentang pasar domestik yang dibanjiri oleh produk impor yang dilakukan secara kurang resmi lah, tidak resmi, ataupun menurunkan harga dengan under invoice. Ini adalah suatu hal yang menurunkan daya saing industri kita," ungkap Ade.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ade mengungkapkan pangsa pasar produk tekstil dan tekstil (TPT) produksi lokal makin susut hanya 30,9% akibat pakaian ilegal. Padahal 5 tahun sebelumnya, pangsa pasar yang dimiliki mencapai 60%.

"Posisi kita per hari ini, pangsa pasar kita di domestik ini tinggal 30,9% yang tadinya 60% tahun 2010. Jadi artinya dalam kurun 5 tahun kita sudah tertekan begitu akibat masuknya barang-barang yang tidak ilegal masuk ke dalam negeri," jelasnya.

Sementara itu, Menperin Saleh Husin menyampaikan, pemerintah menerima segala keluhan dari dunia usaha untuk ditindaklanjuti dalam bentuk solusi. Diharapkan ada kebijakan yang dapat dikeluarkan dalam waktu dekat.

"Teman-teman asosiasi ini menyampaikan berbagai masalah-masalah yang mereka hadapi. Tentu kita ingin agar industri tekstil kita ini bisa terus eksis dan bisa terus meningkatkan produktivitasnya. Ya tentu ada beberapa hal yang menjadi keluhan teman-teman, salah satu adalah tentu dengan banjirnya pakaian-pakaian yang masuk secara ilegal. Nah ini yang tentu harus kita atasi bersama." kata Saleh.

Kemudian pemerintah juga mengharapkan industri tekstil memperlebar pasar ekspornya, karena sekaligus bisa mendorong surplus pada neraca perdagangan. Dengan nilai tukar rupiah sekarang yang melemah tentunya mampu memberikan daya saing yang lebih baik.

"Di samping itu juga, bagaimana agar produktivitasnya bisa meningkat," tukasnya.

(mkl/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads