Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Persatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, di acara Sosialisasi Deks Khusus Investasi Sektor Sepatu dan Tekstil, di Kantor BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jumat (9/10/2015).
"Perdebatannya bukan berapa besar jumlah PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Lebih penting dari itu, apakah perusahaan-perusahaan sepatu ini masih bisa berlangsung," kata Eddy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri sepatu sudah lebih dulu melakukan PHK. Industri sepetu seperti koin, punya dua sisi mata uang. Satu kondisi pelemahan yang membuat daya beli masyarakat turun dan produk tidak terserap pasar," ucapnya.
Eddy mengatakan, saat ini industri sepatu dalam negeri yang masih bertahan adalah industri yang dapat menjual sepatunya ke luar negeri alias ekspor.
"Ekspor sepatu masih tetap tumbuh. Tahun ini tumbuh meskipun hanya 5%. Kita ekspor US$ 4,5 miliar per tahun, namun market share 2%. Artinya, perusahaan yang masih bertahan adalah yang bisa ekspor sepatu," tutup Eddy.
(rrd/rrd)











































