Menindaklanjuti pertemuan tersebut, Menteri Perdagangan Internasional dan Perindustrian Malaysia, Dato Sri' Mustapa Mohamed berkunjung ke Jakarta hari ini. Mustapa sempat mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Thomas T Lembong, Ketua Komisi VI dan XI DPR RI, dan akan bertemu Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil.
"Kedatangan saya hari ini sebagai tindak lanjut pertemuan Perdana Menteri Najib dengan Presiden Joko Widodo. Tugas saya sebagai menteri menindaklanjuti pertemuan tersebut di bidang kerja sama down stream (hilir) CPO (Crude Palm Oil)," ungkap Mustapa Mohamed ditemui di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (13/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab beberap kali pertemuan sudah dilakukan namun belum mendapat hasil memuaskan. Pada pertemuan tersebut kedua kepala negara menyepakati pembentukan Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Production Countriess).
"Sebelumnya kami (RI-Malaysia) sering bertemu tetapi pembahasan kerja sama dalam bidang ekonomi belum cukup mantap. Pertemuan hari Minggu memberi hasil cukup baik kepada kedua negara untuk memperkokoh lagi hubungan perdagangan antar kedua negara khususnya di bidang kelapa sawit. Seperti diketahui, 85% produksi palm oil ada di Indonesia dan Malaysia," kata Mustapa.
Sebelum pertemuan antara PM Malaysia dengan Presiden Jokowi, ada pertemuan antara Menteri Industri Tanaman dan Komoditas, Datuk Amar Douglass Uggah dengan Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli pada 3 Oktober di Jakarta untuk membentuk wadah bernama Council of Palm Oil Producing (CPO PC).
Menurut Mustapa nilai penting pertemuan ini, Malaysia melihat penting memperkuat kerja sama dengan RI karena Indonesia negara besar dengan penduduk terbesar di Asean dan dalam rangka Masyarakat Ekonomi Asean. Apalagi di tengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu saat ini.
"Selain CPO, pertemuan tersebut akan membawa momentum lebih hebat dalam berbagai bidang ekonomi yang lain. Kita menghadapi kondisi ekonomi kurang menentu. Cara menanganinya adalah dengan meningkatkan kerja sama regional," jelasnya.
"Apakah nantinya akan ada non tarif barrier, perjanjian harga bersama, label, atau lainnya harus ada pembicaraan lebih lanjut. Sebab untuk bersama-sama menjadi penentu harga palm oil dunia perlu pembahasan mendalam," kata Mustapa.
Menteri Malaysia tersebut mengatakan perlu ada langkah strategis supaya perdagangan antara RI-Malaysia yang tidak ada pertumbuhan dalam beberapa tahun belakangan bisa tumbuh. Ia mencatat, perdagangan antara Malaysia dengan Indonesia tahun 2014 hanya US$ 19 miliar. Kedua negara sepakat meningkatkan sampai US $ 30 miliar pada 2020.
"Ke depan, pertemuan dengan Menteri Perdagangan Tom Lembong akan dilakukan setiap dua bulan sekali untuk meningkatkan perdagangan kedua negara. Tujuan kami untuk melonjak dari US$ 19 miliar ke US$ 30 itu kerja berat," katanya.
Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia tersebut menginginkan lebih banyak investasi antar kedua negara untuk memperkuat sinergi menghadapi Asean Economic Community (AEC).
"Sebagai salah satu strategi menghadapi AEC, kita harus meningkatkan investasi Malaysia di Indonesia maupun Indonesia di Malaysia," tambahnya.
Investasi Malaysia di Indonesia, menurutnya, bisa ditingkatkan pada sektor peleburan logam dan kelapa sawit.
"Sejauh ini investasi Malaysia di Indonesia ada di bidang palm oil, banking, dan telekomunikasi. Ada investor yang berminat dalam bidang Cikampek-Palimanan, pelabuhan hingga listrik 35.000 Megawatt," ujarnya.
"Akan ditindaklanjuti dengan feasibility study investasi apa yang tepat untuk kedua negara terkait down stream CPO. Harus sebagian palm oil dimanfaatkan di Indonesia dan Malaysia untuk down stream. Nantinya akan kerjasama joint venture. Harga palm oil saat ini naik turun. Harga akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk down stream dengan menerapkan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil )," jelas Mustapa.
Malaysia, kata Mustapa, ingin meningkatkan penggunaan palm oil untuk biodiesel yang baru mencapai B7 di Malaysia dengan penyelarasan RSPO.
"Malaysia belum B 15, kami mulai dari B5 dan saat ini sudah B7. Indonesia sudah sampai B15. Kami ingin kerjasama terkait standar sustainable palm oil. Bagaimana produksi palm oil untuk biodiesel yang berkelanjutan, harganya sesuai dan melaksanakan research. Ini baru awalan. Belum bicara kesepakatan termasuk terkait suplai maupun palm oil. RI-Malaysia harus ada perbincangan terkait dasar—dasar produksi palm oil yang sustainable," katanya.
(ang/ang)











































