Kedatangan Mustapa untuk menindaklanjuti pertemuan antara Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak di Istana Bogor, Minggu (10/10/2015) terkait kerjas ama di bidang industri hilir kelapa sawit.
Mustapa turut mengamati upaya RI agar di bidang ekonomi bisa tetap tumbuh di tengah lesunya kondisi ekonomi global. Salah satunya terkait upaya deregulasi dalam paket kebijakan Jokowi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengikuti perkembangan Indonesia sedang gencar melakukan deregulasi. Proses investasi akan dipersingkat hanya 3 jam," ungkap Mustapa ditemui di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (13/10/2015).
Tidak hanya itu, Mustapa tersebut memuji kebijakan Jokowi di bidang pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, listrik, jalan raya, dan lain-lain.
"Di tengah tantangan yang ada saat ini, Indonesia mengalami peningkatan jumlah masyarakat middle class, pembangunan infrastruktur, dan tumbuhnya investasi," jelasnya.
RI-Malaysia, kata Mustapa, baik dalam jangka pendek maupun panjang harus merapatkan hubungan. Tidak hanya hubungan pemimpin negara tapi juga para tokoh dan pengusaha.
Malaysia dan Indonesia, Ia menjelaskan, juga akan menyelenggarakan Joint Trade and Investment Comittee (JTIC) meeting. Khususnya pertemuan terkait ekonomi di bidang pelabuhan, peningkatan investasi dan down stream kelapa sawit.
Mustapa usul Indonesia perkuat sinergi dengan Malaysia. Saat ini Malaysia bergabung dalam Trans Pasific Partnership Agreement (TPPA) tapi RI belum.
"Saya baca laporan Indonesia pengusaha Indonesia menyambut baik. Tapi di sisi lain pengusaha Indonesia bimbang. Pengusaha Indonesia khawatir akan terpinggirkan karena investor cenderung akan memilih membangun pabrik antar negara anggota TPPA," terangnya.
Di satu sisi, pengusaha Indonesia menyambut baik, tapi di sisi lain muncul kekhawatiran. "Indonesia akan menjadi kurang kompetitif dibanding Malaysia dan Vietnam seperti contohnya pada industri alas kaki," ucapnya.
(ang/ang)











































