Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sebelumnya dikuasai Jepang ini, akan mencari pinjaman perbankan, menerbitkan surat utang (obligasi), hingga melepas sebagian saham ke publik lewat initial public offering (IPO).
"Perkiraan investasi US$ 2,5 miliar sampai dengan 2020. Pendanaan dari obligasi, IPO, dan sindikasi perbankan," ujar Direktur Utama Inalum, Winardi Sunoto, saat acara Head of Agreement (HOA) antara Inalum dan Antam di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (15/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu ada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2x350 megawatt (MW), renovasi pelabuhan, dan pembangunan smelter baru berkapasitas 250.000 ton alumina.
"Nilai obligasi masih divaluasi. Intinya kita optimalkan semuanya. Yang jelas keuangan kita bagus, tidak ada pinjaman," ujarnya.
Sementara untuk IPO, ia melanjutkan, saat ini masih dibahas. Kemungkinan baru dilakukan dalam dua atau tiga tahun ke depan.
"IPO 2017 atau 2018, yang paling cepat kemungkinan pinjaman bank," tambahnya.
(ang/dnl)











































