Cerita Dirut RNI Pimpin BUMN yang Lagi 'Koma'

Cerita Dirut RNI Pimpin BUMN yang Lagi 'Koma'

Dana Aditiasari - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2015 13:36 WIB
Cerita Dirut RNI Pimpin BUMN yang Lagi Koma
Pabrik gula RNI (Foto: Dana/detikFinance)
Cirebon - PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) tengah berjuang untuk bangkit dari keterpurukan. Sejumlah pabrik yang dikelola perusahan pelat merah ini sempat tak beroperasi.

Di depan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Sumarno, Direktur Utama PT RNI Didik Prastyo menceritakan bagaimana perusahaan yang baru dipimpinnya pertengahan tahun 2015 ini hanya memiliki kas perusahaan sebesar Rp 38 miliar dan tidak membukukan keuntungan.โ€Ž

"Saat kami ditugaskan menjadi direksi RNI, kalo diibaratkan orang, RNI itu posisinya sedang koma. Kami masuk darahnya (rugi) Rp 38 miliar," ujar dia di sela kunjungan kerja Menteri Rini di Pabrik Gula Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (16/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, perusahaan saat ini mulai bangkit dari keterpurukan tersebut. Saat ini perusahaan sudah mengantongi kas sebesar Rp 200 miliar berkat berbagai langkah strategis yang telah diambil hingga saat ini. Perusahaan pun sudah mampu mencatatkan laba meskipun belum terlalu besar.

"Saat ini sudah Rp 200 miliar dengan capaian laba Rp 6 miliar secara keseluruhan perusahaan dari sebelumnya rugi RNI Rp 12 miliar," jelasnya.

Untuk produksi gula, kata dia, saat ini perusahaan sudah mulai bangkit.โ€Ž PT RNI memiliki sejumlah pabrik gula (PG) yaitu PT PG Rajawali II yang terdapat PG Sindang Laut, PG Jati Tujuh dan PG Karangsewung. PT Rajawali II meruapakan salah satu dari 12 anak usaha RNI.

PG Sindang Laut sendiri memiliki kapasitas giling 12.000 tcd. Sementara itu, total secara keseluruhan total kapasitas Pabrik Gula, RNI mencapai 32.500 tcd.

"Sampai hari ini kita sudah produksi 58.000 ton, dan meningkat dibandingkan tahun lalu. Secara korporasi capaian gula capai 90.000 ini naik 16% dibanding tahun lalu," tuturnya.โ€Ž

โ€ŽDirinya pun, berterimakasih karena dipercaya Pemerintah untuk menerima persetujuan tambahan suntikan dana berupa penyertaan modal negara (PMN) 2016 senilai Rp 692,5 miliar.

"Dana tambahan tersebut tentunya akan menjadi dana tambahan untuk terus berjuang mempertahankan RNI," pungkasnya.

(dna/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads