Salah satu korporasi yang mengajukan fasilitas itu adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk yang tengah mengajukan tax allowance untuk ekspansi pabrik nafta cracker dengan nilai investasi US$ 380 juta atau sekitar Rp 5 triliun.
Vice President Corporat Relation Chandra Asri, Suhat Miyarso mengatakan pihaknya mengajukan tax allowance melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan sudah mendapat persetujuan. Presiden Jokowi sedang gencar memberikan insentif bagi industri yang memenuhi kriteria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kemenperin mendukung permohonan Chandra Asri karena memperkuat daya saing dan struktur industri. Manfaatnya berantai panjang karena mengurangi impor sekaligus semakin memastikan pasokan bahan baku untuk industri lainnya,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin usai menerima kunjungan Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical, Erwin Ciputra di Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin.
Chandra Asri juga mengajukan permohonan untuk mendapatkan tax holiday untuk proyek pabrik karet sintetis senilai USD 450 juta atau lebih kurang Rp 6 triliun di Cilegon, Jabar. Mereka juga berharap jangka waktu insentif itu diperpanjang dari lima tahun menjadi 8-10 tahun.
"Untuk proyek pabrik karet sintetis yang dibangun oleh PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI), kami memohon agar dapat berlaku lebih lama. Jika hanya lima tahun, maka kurang optimal karena biasanya industri seperti ini masih merugi pada 3 tahun pertama," ungkap Suhat Miyarso.
SRI merupakan perusahaan patungan dengan menggandeng perusahaan ban asal Prancis, Compagnie Financiere Michelin (Michelin). Komposisi modal terdiri dari mencakup Michelin 55 persen dan PT Petrokimia Butadiene Indonesia 45 persen.
Synthetic Rubber Indonesia akan memproduksi polybutadiene rubber dengan neodymium catalyst dan solution styrene butadiene rubber berkapasitas 120 ribu ton. Produk ini merupakan material memproduksi ban ramah lingkungan dan seluruh bahan baku operasional pabrik berasal dari dalam negeri.
Diharapkan, pembangunan atau groundbreaking akan dimulai pada Januari tahun depan dan selesai pada 2017 serta mulai berproduksi pada 2018. Menurut Suhat, perusahaan akan membagi penjualan produk untuk ekspor dan domestik masing-masing 50%.
(hen/hen)











































