Rizal Ramli: RI dan Malaysia Punya E+Pop, Saingannya K-Pop

Rizal Ramli: RI dan Malaysia Punya E+Pop, Saingannya K-Pop

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2015 11:36 WIB
Rizal Ramli: RI dan Malaysia Punya E+Pop, Saingannya K-Pop
Jakarta - Menteri Koordinator Maritim dan Sumberdaya, Rizal Ramli hari ini memimpin pertemuan dengan Delegasi Malaysia. Delegasi Malaysia dipimpin oleh Deputi Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas, Datuk M. Nagarajan.

Pertemuan ini merupan agenda lanjutan setelah Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Najib Razak bertemu beberapa waktu lalu di Bogor, Jawa Barat.

Pertemuan kedua negara membahas kesepakatan teknis tentang pembentukan dewan bersama untuk negara produsen kelapa sawit (palm oil) atau Council of Palm Oil Producing Countries dan pembentukan standar bersama palm oil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kedua negara akan bentuk council atau dewan negara penghasil palm oil. Hari ini kesepakatan, itu dirumuskan secara teknis. Apa saja mekanisme pengaturan pemilihan board executive, fungsinya dll, secara detail. Hari ini dari Malaysia hadir deputi menteri dan deputi Jaksa Agung. Ini rumuskan legal," kata Rizal usai pertemuan tertutup Council of Palm Oil Producing Countries di Hotel Hyatt, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2015).

Untuk standar palm oil, selama ini kedua negara memiliki standar berbeda. Ke depan, standar palm oil akan disatukan dan ditingkatkan agar bisa menenuhi standar dunia.

Rizal menyebut standar kelapa sawit kedua negara akan mengadopsi prinsip E+Pop atau familiar Ecology Welfare Palm Oil Producing Country. Bahkan dengan nada canda, Rizal menyebut standar baru ini mirip dengan istilah musik Korea, K-Pop.

"Standar baru, E+Pop merupakan standar baru pro lingkungan hidup, sustainability dan pro petani kecil di Indonesia dan Malaysia. E+Pop saingan dengan K-Pop," kelakar Rizal.

Bila kedua negara telah sepakat mengenai dewan sawit hingga standar sawit, selanjutnya kedua negara akan bertemu untuk meneken kesepakatan. Rencananya, hasil ini bakal dibawa pada pertemuan tingkat tinggi pada KTT ASEAN di Malaysia.

"Standar akan dibahas di KTT ASEAN di KL pada pertengahan November, dan dibahas pertemuan lagi di APEC setelah KTT ASEAN di Filipina," jelasnya.

Kesepakatan kedua negara dinilai sangat penting. Apalagi Indonesia dan Malaysia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia yang selama ini bersaing ketat. Dengan bersatu, Indonesia dan Malaysia bisa masuk ke pasar-pasar dunia yang selama ini menghambat masuknya palm oil dari kedua negara.

Bila telah memperoleh kesepakatan, Indonesia dan Malaysia bisa membuka pintu bagi negara lain yang juga produsen palm oil untuk masuk ke dalam wadah negara produsen sawit dunia.

"Kita Indonesia dan Malaysia bersatu dulu. Baru undang Brasil, Thailand, Ghana. Kita, Indonesia dan Malaysia 85% sebagai produsen CPO baru negara-negara lain," jelasnya.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads