Peluncuran pesawat jet kelas medium atau narrow body berkapasitas 174 orang ini nantinya bakal menantang dominasi pesawat sejenis keluaran Boeing (seri B-737) dan Airbus (seri A-320).
Seperti dilansir CNN, Selasa (3/11/2015), selain memiliki kapasitas sejenis, C919 dirancang mampu menempuh perjalanan 5.555 kilometer. Kemampuan C919 dinilai cocok melayani penerbangan komersial rute-rute sedang, seperti Shanghai-Singapura atau Beijing-Bangkok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata pengembangan pesawat jet di China pernah dirintis era 1980-an, tapi pengembangan pesawat kala itu tidak pernah berlanjut. Namun Pemerintah China tak menyerah. Pada tahun 2008, rencana pengembangan C919 pertama kali disampaikan ke publik.
Butuh 7 tahun, bagi produsen asal China melahirkan wujud C919 yang diluncurkan 2 November 2015 kemarin.
Setelah proses roll out, C919 direncanakan menjalani terbang perdana mulai tahun depan. Produsen C919, Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), tidak berhenti pada pengembangan pesawat narrow body.
BUMN produsen pesawat asal China ini mengumumkan rencana pengembangan lanjutan berupa pesawat berbadan lebar (wide body). Seperti diketahui, pasar wide body juga masih didominasi oleh Airbus dengan A-380 dan A-350 atau Boeing dengan B-747, B-777 dan B-787.
Pemerintah China ingin C919 dipakai sebagai lompatan untuk pengembangan pesawat wide body. Untuk merealisasikan mimpi tersebut, Pemerintah negeri tirai bambu itu akan melibatkan 200 perusahaan, 36 universitas, hingga ribuan ahli pesawat.
Media lokal China mengklaim, COMAC melengkapi jet C919 rancangannya dengan peralatan electronic (avionik) hingga material badan pesawat (composit) varian pesawat terbaru yang telah terpasang pada Boeing 787 Dreamliner. Namun, para ahli penerbangan menyangsikan klaim media lokal tentang keaslian bahan baku dari C919.
Dari analisa CNN, komponen penting C919 masih didatangkan dari beberapa negara, seperti mesin buatan perusahaan patungan Amerika Serikat (AS) dan Prancis yakni CFM atau power system dan landing gear dari perusahaan asal AS, Honeywell.
Pembuatan pesawat C919 bukan tanpa sebab. China merupakan pasar penerbangan komersial terbesar kedua di dunia, setelah AS. Industri penerbangan di China masih dan akan tumbuh signifikan. Proyeksi Boeing hingga 20 tahun ke depan, China membutuhkan tambahan 6.300 pesawat baru.
Peluang tersebut sebetulnya telah ditangkap oleh produsen pesawat asal Eropa, Airbus. Airbus telah mendirikan pusat perakitan A320 di Tianjin, China sejak 2008.
Presiden China, Xi Jinping, juga baru-baru ini saat melakukan lawatan kenegaraan ke AS, menandatangani kerjasama pembelian pesawat dari Boeing. Tak tanggung-tanggung, Xi menyaksikan perusahaan lokal China membeli 300 pesawat Boeing senilai US$ 38 miliar atau sekitar Rp 513 triliun (asumsi US$ 1 = Rp 13.500).
Tidak berhenti di situ, China juga baru-baru ini membeli 130 pesawat buatan Airbus seniai US$ 17 miliar. Pembelian ini terjadi pasca kunjungan Kanselir Jerman, Angela Merkel ke Bejing pada minggu lalu.
C919 diproyeksi akan menjadi masa depan industri penerbangan China. COMAC, sebagai produsen C919, memproyeksi bisa menjual 2.000 jet lokal dalam 20 tahun ke depan. Beberapa pengamat asal China memproyeksi, ke depannya, COMAC bisa disejajarkan dengan raksasa, Boeing dan Airbus.
Hingga saat ini, COMAC telah menerima pesanan 517 unit pesawat C919. Pemesanan umumnya datang dari maskapai pelat merah asal China dan perusahaan pembiayaan pesawat lokal.
Perjalanan C919 ke pasar internasional diproyeksi tidak berjalan mulus. Alasannya, C919 belum mengantongi sertifikasi tipe dari lembaga penerbangan asal AS, Federal Aviation Administration (FAA). Sertifikasi lembaga internasional diperlukan sebagai syarat melayani penerbangan dan penjualan di luar China.
Meski ada keraguan perihal standar keselamatan pesawat C919, namun dukungan dan harapan publik China terhadap jet lokal ini sangat tinggi. Di media sosial China, C919 dinilai bisa menjadi pesawat dinas kenegaraan atau Air Force One sang presiden. Saat ini, Presiden China masih menggunakan armada Coeing 747 saat melakukan lawatan ke luar negeri.
(feb/ang)











































