PTDI sebetulnya dirancang dalam empat versi. Adapun keempat versi tersebut diberi nama langsung oleh Presiden Soeharto.
Produksi prototipe pertama yakni N 250 PA-1 dengan versi Gatotkaca diluncurkan Agustus 1995, dan N-250 PA-2 diberi nama versi Krincing Wesi yang diluncurkan Agustus 1996.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, 2 pesawat N250 terparkir dan menjadi besi tua pada apron milik PTDI di Bandung. Sementara, pesawat sejenis buatan pabrikan Eropa, ATR justru merajalela dan dipakai maskapai RI untuk melayani penerbangan hingga pelosok negeri.
Direktur Utama PTDI, Budi Santoso menjelaskan, diperlukan dana minimal US$ 1 miliar atau setara Rp 13,5 triliun untuk melanjutkan proyek N250.
Selain itu, PTDI perlu melakukan riset pasar ulang mengenai pesawat tersebut, karena N250 yang dikembangkan tahun 1990-an harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan teknologi penerbangan terkini.
"Sekarang pasarnya minta yang beda, jadi kalau kita mengembangkan N250, kita perlu US$ 1 miliar. Kalau kita mau yang lebih kompetitif, kita perlu US$ 2 miliar,β kata Budi kepada detikFinance, Selasa (3/10/2015).
Agar kemampuan pengembangan pesawat kembali terasah dan melakukan program regenerasi insinyur pesawat pasca penghentian proyek N250 pada tahun 1998, PTDI meluncurkan pengembangan pesawat N219 sejak tahun 2007. Ide pengembangan muncul dari Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana. Pada pengembangan N219, PTDI melibatkan para insinyur pesawat berusia tua dan muda. Insinyur pesawat senior, melatih para junior dalam pengembangan N219. Setidaknya, PTDI melibatkan 300-an insinyur pesawat lokal dalam proyek N219.
"N250 terakhir dikembangkan 20 tahun lalu atau tahun 1995. Ahlinya juga mungkin sebagian pensiun dan sudah tua maka perlu ada regenerasi. Terus kita harus mengikuti teknologi baru untuk desain pesawat," sebutnya.
Rencananya, N219 bakal diluncurkan ke publik (roll out) pada November 2015. Setelah itu, PTDI akan melakukan beberapa uji sebagai syarat melakukan first flight pada Mei 2016. Produksi massal baru dilakukan pada Februari 2017, setelah PTDI mengantongi type certificate dan production certificate N219.
Ternyata pengembangan pesawat oleh PTDI tak berhenti disitu. PTDI bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menyiapkan rencana pengembangan pesawat bermesin turboprop lanjutan yang bisa mengangkut 50 orang. Pesawat ini dinamai N245. Program pengembangan N245 akan dimulai tahun 2016.
Program Manager PTDI untuk N219, Budi Sampurno menjelaskan N245 dikembangkan sebagai pendukung operasional N219. Bila N219 dirancang untuk melayani penerbangan ke pelosok atau penerbangan rute perintis, maka N245 dirancang sebagai feeder atau pesawat penghubung ke penerbangan perintis.
"N245 mulai tahap konseptual dan technology readyness. Dari hasil market study, N245 harus masuk pasar tahun 2019 karena betul-betul sudah sangat dibutuhkan sebagai feeder pesawat," kata Budi Sampurno.
(feb/dnl)










































