"Palu ini salah satu terbesar penghasil cokelat. Sayangnya selama ini kita banyak produksi dalam bentuk biji cokelat begitu saja. Sayang sekali kan," ujar Saleh di usai peresmian di lokasi Rumah Cokelat, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (17/11/2015).
Sesditjen Industri Agro Kemenperin, Enny Ratnaningtyas mengatakan, di Rumah Cokelat ini biji cokelat dari petani diolah menjadi produk setengah jadi berupa blok-blok coklat. Di rumah cokelat terdapat alat produksi yang tak dimiliki oleh petani kakao.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembuatan cokelat setengah jadi ini sekaligus menjadi solusi bagi industri kecil menengah (IKM) di sektor pengolahan cokelat yang selama ini kesulitan mencari bahan baku.
"Di sini meskipun petani cokelat banyak, tapi tidak ada yang mengolah. Pernah ada yang coba produksi sendiri dari biji menjadi yang siap konsumsi ternyata rasanya asam sekali. Dengan adanya ini, produsen dan petani sama-sama dapat solusi. Biji cokelat dari petani, kami olah jadi setengah jadi, lalu dimanfaatkan IKM menjadi produk siap jual," katanya.
Dikatakannya, rintisan bantuan terhadap Rumah Cokelat ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2013. "Tahun ini kita lengkapi dengan alat pres untuk memisahkan lemak dari cokelat. Investasi untuk Rumah Cokelat ini Rp 3 miliar lebih. 2013 Rp 2 miliar lebih, tahun 2015 sekitar Rp 1,3 miliar," rinci Enny.
Dengan cara ini, diharapkan Industri Cokelat di Kota Palu bisa semakin menggeliat dan bisa menjadi ikon baru komoditi asli Kota Palu.
(dna/hen)











































