"Kita penghasil sawit terbesar, tapi malah nggak bisa tentukan harga sawit. Harusnya sebagai penghasil terbesar bisa jadi penentu harga bareng-bareng dengan Malaysia," kata Rosan, ditemui di Hotel Trans Luxury Bandung, Jawa Barat, usai Munas Kadin ke-VII, Selasa (24/11/2015) malam.
Rosan mengungkapkan, salah satu target utama dirinya di awal kepemimpinannya di Kadin adalah mendorong pembenahan industri CPO dan turunannya. Rosan menyebut, sawit sebagai produk lokal berdaya saing global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menargetkan bisa jadi pengendali harga, lanjut Rosan, dirinya akan menggencarkan kampanye lewat Kadin mengenai pengelolaan kebun sawit Indonesia, yang sudah melaksanakan prinsip lingkungan berkelanjutan. Tujuannya, mengurangi hambatan ketat yang membatasi CPO di negara-negara Eropa. Seperti diketahui, sawit dari Indonesia, sering mendapat citra buruk sehingga ditolak di berbagai negara, khususnya Eropa.
"Kita bersama-sama memberikan pemahanan dan pengertian kepada dunia luar, bahwa kita menjalankan bisnis kelapa sawit semakin lama semakin baik, kita harus punya bargaining power ke pihak luar. Kita ada kendala tembus Eropa, ini yang saja perjuangkan," pungkasnya.
(rrd/rrd)











































