"Industri sawit adalah industri yang strategis, karena banyak lahan dan menyerap tenaga kerja hingga 21 juta lebih. Revenue yang kita dapat dari industri sawit mencapai hingga US$ 21 miliar, mungkin lebih, tergantung harga," ujar Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Luhut Panjaitan dalam jumpa pers Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2015 and 2016 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/11/2015).
Menurutnya, hampir 40% kepemilikan lahan kelapa sawit itu bersumber dari rakyat. Sehingga dampak pemerataan kesejahteraan rakyat menjadi lebih baik melalui perkebunan dan industri sawit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perhatian pemerintah terhadap lingkungan, menurutnya perlu dipahami oleh semua pihak, termasuk pengusaha perkebunan kelapa sawit. Sebagai bangsa yang independen,
Luhut juga mengingatkan agar para pengusaha untuk tidak didikte oleh pihak asing atau orang lain yang ingin mengganggu stabilitas keamanan dan industri perkebunan di Indonesia, khususnya pasca kebakaran hutan yang belum lama ini melanda Indonesia.
"Lingkungan itu penting, namun jangan sampai kita didikte oleh orang lain, bahwa ada kurang lebih kita akui, namun sekarang kita perbaiki. Kita sebagai bangsa Indonesia harus melindungi bangsa kita dengan memberikan penerangan tentang bagaimana industri itu bisa dikembangkan," tutupnya.
Seperti diketahui selama bertahun-tahun industri kelapa sawit dihadapkan dengan 'kampanye hitam' di tingkat global, termasuk soal isu lingkungan. Masalah kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi isu yang kerap ditujukan kepada sektor ini. Negara-negara konsumen sawit seperti Eropa menerapkan syarat ketat bagi produk sawit Indonesia, seperti adanya wadah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
(rni/hen)











































