"Dari data yang diperoleh dari Global Forest Watch yang secara reguler dan independen melakukan monitoring kebakaran lahan dan hutan, dari total area yang terbakar 10% berada pada area konsesi perkebunan kelapa sawit, 59% berada di luar area konsesi perusahaan perkebunan, 26% dan 5% masing-masing pada area konsesi HTI dan HPH," kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam sambutannya di acara Indonesian Palm Oil Conference di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/11/2015).
Data tersebut, menurutnya diambil pada periode Juli-November 2015 untuk Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Data tersebut sengaja disampaikan secara rinci untuk menyatakan bahwa kebakaran lahan dan hutan adalah bencana yang tak diinginkan siapapun juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, kebakaran yang meluas terjadi akibat cuaca panas akibat El-Nino yang berkepanjangan. Pihaknya mengaku telah berusaha menjaga agar api tak merambat ke konsesi perkebunan, tapi tak sepenuhnya mampu mencegahnya.
"Karenanya, sejak awal para anggota GAPKI telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan. Seperti melakukan pemadaman bekerjasama dengan masyarakat dan aparat pemerintah, membagikan masker dan membuka posko/klinik kesehatan," jelasnya.
Menurutnya GAPKI mendukung upaya pemerintah untuk melakukan penegakan hukum untuk pemilihan lahan yang terbakar.
"Selain memberikan masukan pada Presiden, GAPKI juga terlibat aktif dengan tim Kementerian Lingkungan dan Kehutanan dalam perumusan panduan peraturan untuk penanggulangan kebakaran hutan," tutupnya.
(rni/hen)











































