Pasar minyak sawit global kembali menggeliat walaupun konsumen utama Crude Palm Oil (CPO) seperti Tiongkok dan India mengurangi pembelian minyak sawit. Analis menyebut harga CPO mulai bergerak naik sejak pertengahan tahun 2015, saat mandatori biodiesel diterapkan di Indonesia.
"Harga CPO mulai bergerak naik dimulai Agustus 2015. Namun pergerakan harga juga dipengaruhi ketidak pastian suplai sebagai dampak El Nino," ujar Thomas Mielke, Analis harga Oilworld dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2015, di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/11/2015).
Dia menambahkan, dalam waktu 6 bulan berikutnya, ada peluang kenaikan harga palm oil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas mengatakan, pasokan minyak sawit dan soya oil, bisa menekan pasar ekspor minyak nabati dunia. Produksi kedua jenis minyak nabati bisa berkurang karena iklim kering yang terjadi tahun ini.
"Saya lihat, pertumbuhan suplai minyak sawit di pasar global diperkirakan hanya satu juta ton. Sementara itu, minyak soya diproyeksikan 2 juta ton," kata dia.
Rendahnya produksi ini, lanjut Thomas, tidak sebanding dengan kebutuhan minyak sawit di sektor pangan dan energi. Dia mengatakan kebutuhan industri pangan terhadap minyak nabati diperkirakan naik 6 juta ton.
"Dari jumlah tersebut kontribusi CPO terhadap minyak nabati sekitar 30%. Diproyeksikan harga palm oil di kisaran US$ 700 hingga US$ 750 per ton. Pergerakan harga bergantung pada suplai CPO di pasar global dan konsumsi biodiesel," jelasnya.
Β
(rni/hns)











































