"Kita tahun 2015 targetkan pertumbuhan sektor industri di awal 6,3-6,8%. Kita masih lihat kondisi ekonomi global 2016. Kondisi tahun ini tiba-tiba dengan ekonomi global lesu turut mempengaruhi industri dalam negeri," kata Saleh Husin ketika berkunjung ke kantor redaksi detikcom, Senin (30/11/2015).
Menurutnya, lebih baik depan memasan target realistis. "Daripada kita terlalu over mending kita pasang target yang realistis saja. Mungkin tahun depan nggak terlalu bergerak jauh dari 2015," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target pertumbuhan industri paling maksimal bisa 5,5% sampai akhir tahun. Meski demikian, ekspor tahun depan harusnya lebih meningkat dari sekarang. Realisasi tahun ini ekspor rendah. Jadi tahun depan kita tidak mau pasang target bombastis," jelasnya.
Ekspor pun tidak ditargetkan naik signifikan pad tahu depan. Hal tersebut melihat kondisi negara-negara tujuan ekspor RI pun belum membaik kondis ekonominya.
"China tahun depan juga kelihatannya masih akan nggak terlalu bergerak jauh dari tahun ini. Ekspor kita kan banyak ke sana. Kalau sekarang, faktor global mempengaruhi industri di dalam negeri. Permintaan turun, mau nggak mau turunkan produksi," imbuhnya.
Meski 2016 diprediksi masih lesu akibat terpengaruh kondisi ekonomi global, Salen Husin berharap keadaan akan membaik pada 2017.
"Mungkin 2017 pertumbuhan ekonomi dan industri akan naik. Banyak yang realisasi produksi dari investasi tahun ini akan mulai tahun 2017. Mistubishi dan Nippon Steel misalnya akan mulai produksi 2017," katanya.
(ang/ang)











































