Follow detikFinance
Selasa 01 Dec 2015, 10:07 WIB

Menperin Terus Rayu Foxconn Buat Pabrik di RI

Lani Pujiastuti - detikFinance
Menperin Terus Rayu Foxconn Buat Pabrik di RI
Jakarta - Ponsel pintar (smartphone) dengan harga murah makin diminati masyarakat di Indonesia. Hal ini mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mengaet para pabrikan ponsel untuk mendirikan pabrik produksi di Indonesia.

"Saya sempat nanya ke vendor smartphone, kenapa smartphone sekarang dibuat murah? Smartphone dibikin murah karena lifestyle berubah cepat. Kebanyakan orang paling lama 2 tahun ganti handphone, bahkan setahun sudah ganti lagi. Jadi pangsanya besar," ungkap Saleh Husin saat berkunjung berkunjung kantor redaksi detikcom, Senin (30/11/2015).

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE), Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan menambahkan, beberapa vendor smartphone sudah berinvestasi bangun pabrik untuk memproduksi ponsel murah.

"Kita dorong industri yang beroperasi di dalam negeri supaya mau membuat smartphone murah. Hisense, Ti—phone, HTC mau buat handphone Rp 1 jutaan yang mengedepankan fungsi bukan merk. OEM (Original Equipment Manufacture) luar akan join dengan orang Indonesia untuk membuatnya," jelas Putu.

Produsen smartphone merk ternama banyak yang sudah mendirikan pabrik di Indonesia seperti Samsung, Sony, Huwawei, dan Hisense. Pemerintah masih mengharap produsen Blackberry dan Apple bisa membangu pabriknya di RI.

"Kalau kita mau minta Apple ada di sini, kita harus minta ke Foxconn. Apple katakan tender mau buat HP dengan spec tertentu dan Foxconn selalu menang. Jadi kita bilangnya sama Foxconn. Foxconn tetap menjadi perhatian kami, tetap kami tanya-tanya. Bagaimanapun juga Foxconn supplier yang tidak hanya membuat Apple, tapi Blackberry juga. Dia OEM besar," ujar Putu.

Putu menyampaikan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Kementerian Perdagangan, mencoba mendorong investasi smartphone lebih banyak. Tidak hanya investasi pabrik perakitan ponsel, tetapi juga pabrik komponen dan konten lokal. Kemenperin aka mewajibkan produsen menanamkan konten dann aplikasi lokal pada smartphone yang diproduksi di dalam negeri.

"Selama ini kalau pendekatannya hanya merakit agak sulit. Ada masalah infrastruktur, ada masalah buruh. Maka kita dorong lewat apps atau aplikasi. Mulai 2016 setiap ponsel pintar atau smartphone, TKDN (Tingkat Kompone Dalam Negeri) kita akan pertimbangkan selain komponen dan perakitan tapi juga software lokal," ucapnya.

Putu menyayangkan smartphone yang tiap hari digunakan masyarakat masih didominasi aplikasi dari luar negeri. "Sekarang tiap smartphone on muncul Kakaotalk, Whatsapp, aplikasi dari luar semua. Kita ingin launch yang dot id (.id) dari aplikasi dalam negeri. Nanti embed (tanam) atau di-inject. Jadi yang embed aplikasi lokal bisa naik TKDN. Konten lokal dan aplikasi lokal akan kita hitung," terangnya.

Putu menambahkan, jika upaya membenamkan aplikasi lokal ke smartphone yang dibuat di dalam negeri, keuntungan dari besarny penggu smartphone akan semakin 'bocor' ke penyedia aplikasi luar negeri. Tidak hanya itu, Putu akan meminta perusahaan IT besar seperti Google tidak hanya berjualan, tetap juga membangun pusat pengembangan kontennya di RI.

"Dunia sudah hampir borderless. Bidang ICT kita mau coba tiru India dengan soft ware technopark. Pendekatan Strategic partnership dengan Regional IT Center for Excellent (RICE). Misalnya Google harus eksis di sini. Harus bangun development center, kantor, dan pabrik di sini. Termasuk yang besar-besar seperti Apple, Microsoft, itu kan nggak eksis di sini, mereka eksis di Singapura," ujarnya.

Pendekatan kedua, kata Putu, untuk mengembangkan konten lokal yaitu melalu IBC atau Inkubator Business Center.

Kemenperi juga akan menerapkan syarat game-game lokal yang didevelop oleh anak muda kreatif agar ditanamkan ke smartphone yang dibuat di Indonesia kalau mau TKDN naik.

"TKDN sedang kita rumuskan hitungannya dengan developer besar seperti Google dan Apple untuk uji publik hitung TKDN software dan aplikasi. Selama ini banyak keluhan, Zyrex akui buatan orang Indonesia. Tapi dibuat di Thailand. TKDN jadi hilang," imbuh Putu.

Tidak hanya aplikasi, lanjut Putu, ke depannya desain juga akan ada nilai TKDNnya. "Kalau punya lisensi desain seluruhnya lokal, maka skor TKDN nambah 20% meskipun ponsel dibuat di luar," tutupnya.

(rrd/rrd)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed