Peneliti asal Institut Pertanian Bogor (IPB), Purwono menyampaikan berdasarkan hasil risetnya terhadap pabrik gula BUMN bahwa revitalisasi mutlak dilakukan. Hal tersebut melihat kebutuhan gula terus meningkat, sementara produksi belum bisa mengejar kekurangannya.
"Proyeksi konsumsi GKP (gula kristal putih) dan GKR (gula kristal rafinasi) hingga 2020 totalnya 6.868 ton. Produksi GKP pada 2020 hanya 3.022 ton. Jadi ada selisih besar yang dipenuhi dari gula rafinasi, sementara bahan bakunya sebagian.besar masih impor," ungkap Purwono pada diskusi panel dalam Musyawarah Nasional V Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (3/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penataan PG BUMN, kata Purwono, berpeluang mendongkrak produksi mencapai 3,6 juta ton. Purwono menyusun riset bahwa diperlukan 21 PG baru untuk memenuhi proyeksi kebutuhan gula pada 2020 yaitu sebesar 6,8 juta ton.
"Jika mulai membangun dari sekarang, kita baru punya PG baru di luar Jawa paling cepat beroperasi pada 2020," tambahnya.
Menurut Purwono, hingga 2020 PG BUMN perlu punya beberapa target dari langkah revitalisasi.
"Pertama, efisiensi kinerja PG, kapasitasnya didesain dari minimal 4.000 TCD ke 6.000 TCD. Rendemennya minimal 80%. HPP gula harus di bawah Rp 6.000/kg dari saat ini Rp 8.000/kg. Kemudian waktu giling efektif paling lama hanya 135 hari," jelas Purwono.
Purwono menyampaikan, ada 12 PG BUMN yang perlu direvitalisasi. Berikut daftarnya.
Β
Asembagus Baru
Sindang Laut Baru (bangun PG baru)
Sumber Harjo Baru (bangun PG baru)
Tasik Madu Baru
Cukir Baru
Mojopanggung
Pagotan Baru
Sudono Baru
Candi Baru
Krembung baru
Prajekan Baru
Kedawung Baru
(hns/hns)











































