Harga Karet Merosot Hingga 75% Dalam 4 Tahun Terakhir

Harga Karet Merosot Hingga 75% Dalam 4 Tahun Terakhir

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 04 Des 2015 11:05 WIB
Harga Karet Merosot Hingga 75% Dalam 4 Tahun Terakhir
Jakarta - Harga karet dunia yang sempat bertengger di US$ 4,9/kg pada 2011 terus menurun seiring dengan berakhirnya era Booming Commodity. Saat ini harga karet tinggal US$ 1,2/kg alias tinggal seperempat dari tingkat harga pada tahun 2011.

Permintaan karet alam menurun tajam belakangan ini karena konsumen beralih menggunakan karet sintetis. Karet sintetis yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku menjadi murahβ€Ž karena harga minyak bumi yang sudah berada di bawah US$ 50 per barrel.

Kondisi ini jauh berbeda dibanding tahun 2011 saat harga minyak dunia masih US$ 100 per barrel, sehingga konsumen lebih banyak menggunakan karet alam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penyebabnya (anjloknya harga karet alam) adalah banyak yang beralih ke karet sintetis. Harga minyak mentah sekarang murah. Kalau harga minyak mentah di atas US$ 100 per barrel, orang pasti beralih ke karet alam," kata Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkrindo), Lukman Zakaria, kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (4/12/2015).

β€ŽHarga karet saat ini, sambungnya, sudah tidak wajar. Para petani karet sudah tidak mendapat untung lagi dari hasil kebunnya.

"Nggak wajar kalau harga karet sekarang ini, nggak logis," ucapnya.

Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah agar segera merealisasikan program-program untuk meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri supaya harga karet bisa terkerek naik.β€Ž

"Pemerintah harus memberikan jalan supaya petani bisa menikmati hasil kebunnya," tutupnya.

Sebagai informasi, kemarin Menteri Perdagangan Thomas Lembong melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian Thailand dan Menteri Perdagangan Malaysia untuk menyikapi kejatuhan harga karet ini. Thailand, Indonesia, dan Malaysia adalah 3 negara produsen karet terbesar dunia yang tergabung dalam ITRC.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sepakat meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri supaya surplus produksi karet bisa ditekan dan harga karet bisa kembali naik. Untuk Indonesia sendiri, penggunaan karet akan ditingkatkan melalui proyek-proyek infrastruktur seperti jalan raya, irigasi, bendungan, dan sebagainya.




(hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads