Permintaan karet alam menurun tajam belakangan ini karena konsumen beralih menggunakan karet sintetis. Karet sintetis yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku menjadi murahβ karena harga minyak bumi yang sudah berada di bawah US$ 50 per barrel.
Kondisi ini jauh berbeda dibanding tahun 2011 saat harga minyak dunia masih US$ 100 per barrel, sehingga konsumen lebih banyak menggunakan karet alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βHarga karet saat ini, sambungnya, sudah tidak wajar. Para petani karet sudah tidak mendapat untung lagi dari hasil kebunnya.
"Nggak wajar kalau harga karet sekarang ini, nggak logis," ucapnya.
Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah agar segera merealisasikan program-program untuk meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri supaya harga karet bisa terkerek naik.β
"Pemerintah harus memberikan jalan supaya petani bisa menikmati hasil kebunnya," tutupnya.
Sebagai informasi, kemarin Menteri Perdagangan Thomas Lembong melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian Thailand dan Menteri Perdagangan Malaysia untuk menyikapi kejatuhan harga karet ini. Thailand, Indonesia, dan Malaysia adalah 3 negara produsen karet terbesar dunia yang tergabung dalam ITRC.
Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sepakat meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri supaya surplus produksi karet bisa ditekan dan harga karet bisa kembali naik. Untuk Indonesia sendiri, penggunaan karet akan ditingkatkan melalui proyek-proyek infrastruktur seperti jalan raya, irigasi, bendungan, dan sebagainya.
(hns/hns)











































