Industri Komponen Otomotif Terpukul Kenaikan UMP Hingga Kurs Dolar

Industri Komponen Otomotif Terpukul Kenaikan UMP Hingga Kurs Dolar

Dana Aditiasari - detikFinance
Jumat, 04 Des 2015 13:53 WIB
Industri Komponen Otomotif Terpukul Kenaikan UMP Hingga Kurs Dolar
Bogor - Tahun 2015 menjadi tahun penuh tantangan bagi kalangan industri termasuk industri komponen otomotif. Hal ini dialami oleh PT Astra Otoparts, anak usaha PT Astra International β€Žyang bergerak di bidang penyediaan onderdil kendaraan bermotor.
β€Ž
Direktur Keuangan Astra Otoparts, Hugeng Gozali mengakui bahwa besarnya tantangan tersebut telah menggerus kinerja perusahaan. Ia menyebutkan, setidaknya ada 3 isu utama yang membuat kinerja perseroan sampai September ini masih merosot.
β€Ž
Pertama, adalah masalah demand atau permintaan komponen yang turun. Hal ini sejalan lesunya perekonomian nasional.

"Ini sejalan dengan menurunnya penjualan mobil dan sepeda motor nasional," katanya dalam acara Workshop Wartawan Industri dan Otomotif di Kawasan Sentul Nirwana, Bogor, Jumat (4/12/2015).

Kedua, terkait nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS sejak tahun lalu. Hal ini terkait 50-60% material yang didapat perseroan untuk memproduksi komponen kendaraan masih berasal dari impor dengan mata uang asing, namun penjualannya memakai rupiah.β€Ž

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga, masalah kenaikan upah minimum provinsi (UMP). UMP tahun ini naik cukup tinggi khususnya Jabodetabek bahkan kenaikan UMP sektoral. "Harus diakui beban upah buruh sangat besar dan mempengaaruhi," kata Hugeng.

Seperti diketahui, sampai September 2015 laba bersih perseroan tercatat anjlok hingga 72% menjadi Rp 179 miliar, dari sebelumnya Rp 641 miliar diperiode sama tahun sebelumnya.

Penurunan itu juga mendorong laba bersih per saham ikut turun dari Rp133/saham jadi Rp37/ saham.β€Ž Saat ini jaringan ritel terkuat Astra Otoparts masih di Pulau Jawa, dimana DKI Jakarta menempati posisi teratas dengan jaringan ritel sebanyak 141, disusul Jawa Barat 47, Jawa Timur 45 dan Jawa Tengah 42. Sedangkan sisanya tersebar di wilayah Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.β€Ž

(dna/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads