Pengusaha Sayangkan BUMN Belum Bisa Hasilkan Garam Industri

Pengusaha Sayangkan BUMN Belum Bisa Hasilkan Garam Industri

Lani Pujiastuti - detikFinance
Kamis, 17 Des 2015 15:11 WIB
Pengusaha Sayangkan BUMN Belum Bisa Hasilkan Garam Industri
Foto: ilustrasi (Reuters)
Jakarta - Kebutuhan garam nasional setiap tahunnya mencapai 3,5 juta ton. Produksi garam lokal dihasilkan oleh BUMN dan petambak garam. Produksi garam lokal baru bisa mencapai 1,6-1,8 juta ton per tahun, sementara sisanya masih harus diimpor.

Produksi dari BUMN yaitu PT Garam dengan produksi rata-rata hanya 300-330 ribu ton, sedangkan produksi petambak mencapai 1,3-1,5 juta ton dari lahan sepanjang pantai utara Pulau Jawa dan pantai Selatan Madura.

Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk mengatakan, industri dalam negeri membutuhkan garam dalam jumlah besar, harga terjangkau, dan tersedia sepanjang waktu. Peningkatan produksi garam kuncinya yaitu perluasan lahan. Produksi garam masih dihadapkan pada tantangan pembebasan lahan untuk ekstensifikasi dan inefisiensi produksi BUMN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada pilihan kecuali ekstensifikasi perluasan lahan. Pengembangan lahan 1.000 hektare di Nagekeo saja belum selesai pembebasan lahannya," kata Tony dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI), di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Dari segi produksi garam dari perusahaan BUMN yang belum efisien, menurut Tony perlu pembenahan. Cara produksi termasuk panen yang masih tradisional perlu modernisasi alat. Peran BUMN pun mestinya bisa sejalan mendukung petambak garam. Termasuk menjaga harga garam di tingkat petambak.

"BUMN kalau panen masih pakai garu, itu sangat tidak efisien. PT Garam seharusnya bukan bersaing dengan petambak garam, tetapi bersaing dengan kualitas dan kuantitas pemenuhan kebutuhan konsumsi nasional," jelas Tony.

Produksi PT Garam, menurut Tony bahkan belum bisa memenuhi kebutuhan industri.

"PT Garam pernah bawa garamnya ke Unilever, tapi lalu ditolak. Garamnya masih mengandung kotoran, kandungan kalsium dan magnesium sangat tinggi, penyebab mikroskopik tumbuh. Produktivitas PT Garam 70-80 ton/hektare. Produksi tahun ini pun hanya 325 ribu ton," imbuhnya.

Petambak pun perlu dibantu dengan infrastruktur jalan yang baik. Kondisi jalan yang buruk membuat biaya angkut pasca panen menjadi tinggi. Dari satu faktor kecil tersebut sudah membuat Indonesia kalah daya saing dibanding Australia.

"Bedanya Indonesia dengan Australia, soal infrastruktur. Di Australia lahan gersang menganggur bisa dimanfaatkan. Panen langsung bisa diangkut kendaraan karena dekat jalan. Kalau di Madura masih harus dipikul karena jauh," pungkasnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads