"Kebijakan akan bagus kalau disusun dengan bahan yang bagus. Bahannya yaitu data. Nah datanya saja ngeri terutama produksi petambak dan konsumsi rumah tangga," ungkap Faisal Basri, dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI), di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Data tersebut menjadi bagian dari bahan baku menyusun kebijakan pemenuhan kebutuhan garam industri termasuk impor. Menurut Faisal, kebijakan penyediaan garam industri akhirnya kena dampak. Produksi garam lokal yang belum bisa memenuhi standar industri dan tidak kunjung meningkat, dihadapkan pada tantangan terus tumbuhnya kebutuhan industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faisal Basri mengaku keheranan dengan data peoduksi garam. Terjadi anomali produksi di tengah lahan yang tidak bertambah.
"Tahun 2012 ajaib produksi naik 2 juta ton. 2013 turun lagi mendekati 1 juta ton, lalu 2014 naik mendekati 2,2 juta. Ini seperti roller coaster. Padahal lanannya nggak bertambah," imbuhnya.
Data konsumsi pun demikian, Faisal Basri menilai janggal jika konsumsi rumah tangga yang stabil hingga 2013 sebesar 700 ribu ton lalu kemudian merosot menjadi 511.000 ton pada 2014.
"Tiba-tiba 2014 jadi 511 ribu ton. Apa ada gerakan diet garam? Kan nggak ada," tambahnya.
Faisal menyebut, pelaku industri berbahan baku garam jadi kena getahnya. Padahal menurutnya data garam industri paling jelas pengumpulannya karena penggunanya jelas.
Faisal menyinggung soal ramainya kabar rembesan impor garam. "Impor merembes belakangan ramai. Hampir mustahil importir produsen joint venture dengan Jepang impor untuk dijual kembali jadi rembesan ke garam rumah tangga di Indonesia? hampir tidak mungkin," ujarnya.
Menurutnya, menelusuri rembesan garam untuk konsumsi rumah tangga yang dilarang impor, bukan perkara sulit. Peluang rembesan bisa ditelusuri dari penggunaan garam oleh industri aneka pangan.
"Industri aneka pangan yang volume impor tahun 2014 hanya sebesar 400 ribu ton pun jelas importirnya. Tanya saja ke 7 perusahaan industri aneka tersebut rembes nggak, dijual kemana garamnya. Impor garam ini beda dengan gula rafinasi yang sangat mudah merembes menjadi gula rumah tangga," ucap Faisal.
(rrd/rrd)











































