Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, produksi PT Garam seringkali masih bersaing dengan petambak. Menurutnya, BUMN ini perlu bertransformasi dari penghasil garam menjadi penyerap dan pengolah garam dari para petani.
"PT Garam perlu bertransformasi dari produsen garam menjadi pengolah garam dari para petani. Daripada selama ini bersaing dengan petani," kata Faisal Basri, dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI), di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kekuatan modal dan teknologi yang dimiliki BUMN, menurut Faisal bisa bersinergi dengan petani garam dan berfokus memenuhi kualitas dan kuantitas garam industri.
"Tidak usah produksi garam. Jadikan perusahaan pengolah garam petambak. Hilang 300-330 ribu tapi bisa sinergi dan fokus peningkatan kualitas serta nilai tambah," tutur mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi ini.
Faisal Basri mengatakan, pernah menyampaikan masukan tersebut ke Komisaris Utama PT Garam Sudirmaan Saad dan telah ditanggapi dengan rencana kemitraan dengan petambak garam pada 2016 mendatang.
Terkait pembatasan impor garam industri terutama aneka pangan, menurutnya justru memunculkan kekhawatiran industri akan beralih mengimpor produk jadi.
"Kalau garam nggak boleh impor, industri pengguna garam justru akan impor barang jadi. Jadi ini pertaruhannya besar. Industri pun sedang melambat. Industri sedang tergopoh-gopoh," tegasnya.
(rrd/rrd)











































