Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengungkapkan, produksi gula tahun ini hanya akan mencapai 2,5 juta ton, tidak naik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Kita jujur saja, produksi gula kita tahun iniโ 2,5 juta ton. Produksi kita memang segitu-segitu saja," kata Ketua Umum APTRI, Sumitro Samadikun, kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (30/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada upaya yang jelas untuk meningkatkan produksi gula nasional. Menteri terkait nggak pernah membela kita," ucapnya.
Bantuan-bantuan yang dibutuhkan para petani tebu untuk meningkatkan produksi, misalnya pupuk dan kredit untuk pertanian, jumlahnya sangat minim. "Kebutuhan pupuk, kredit, masih sangat kurang," tutur Sumitro.
Sama halnya dengan APTRI, para pengusaha pabrik gula lokal yang tergabung dalam Asosiasi Gula Indonesia (AGI) pun memastikan bahwa produksi gula nasional tahun ini hanya sekitar 2,5 juta ton.
"Dari awal AGI sudah memprediksi bahwa produksi gula tahun ini 2,5 juta ton, di bawah taksasi pemerintah 2,7 juta ton," kata Direktur Eksekutif AGI, Tito Pranolo, kepada detikFinance.
Produksi pada tahun depan pun diperkirakan tidak jauh berbeda karena efek el nino pada panen tebu di awal 2016. "Produksi 2016 kemungkinan tidak lebih baik, bahkan bisa lebih buruk karena efek el nino,"โ ucapnya.
Akibat gagal tercapainya target produksi gula ini, sebagian kebutuhan gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi rumah tanggaโ pada tahun depan harus dipenuhi dari impor. Stok yang dimiliki pabrik-pabrik gula di dalam negeri sampai akhir 2015 hanya 800.000 ton, sedangkan penggilingan tebu baru akan mulai lagi April mendatang.
Dengan perhitungan kebutuhan GKP sebesar 250.000 ton per bulan, maka dibutuhkan 1.000.000 ton GKP hingga April 2016. Artinya, ada minus 200.000 ton karena stok hanya 800.000 ton, inilah yang harus dipenuhi dari impor. "Akan ada kekurangan 200.000 ton untuk memenuhi kebutuhan gula sampai musim giling di April," tuturnya.
Karena itu, Tito mendukung langkah pemerintah yang menugaskan Bulog mengimpor GKP untuk buffer stock supaya tidak terjadi kelangkaan dan gejolak harga. "Bulog punya infrastruktur, ada gudang di seluruh Indonesia. Bulog harus menyeimbangkan pelaku pasar lain," tutupnya.
(hns/hns)











































