Harga Karet Belum Membaik Sejak 7 Tahun Lalu, Ini Solusi Kemenperin

Harga Karet Belum Membaik Sejak 7 Tahun Lalu, Ini Solusi Kemenperin

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 06 Jan 2016 16:51 WIB
Harga Karet Belum Membaik Sejak 7 Tahun Lalu, Ini Solusi Kemenperin
Foto: ilustrasi Reuters
Jakarta -

Harga karet dunia belum membaik sejak 7 tahun terakhir. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mencari cara agar harga karet kembali membaik.

Direktur Jenderal Industri Agro, Kemenperin, Panggah Susanto mengatakan, pihaknya tengah mencari berbagai peluang untuk meningkatkan penyerapan karet di pasar dalam negeri, melihat kondisi harga dunia yang belum menggembirakan. Salah satunya dengan mengkaji pemanfaatan karet sebagai bahan baku aspal hingga pemanfaatan untuk produksi karet bantalan pelabuhan atau docking fender.

Menurut data perdagangan di bursa komoditas TOCOM (The Tokyo Commodity Exchange) harga karet untuk kontrak Juni 2016 berada pada level 148,8 yen/kg atau Rp 17.405/kg. Harga tersebut turun 1,2%. Sebelumnya harga karet sempat menyentuh 148,3 yen/kg atau terendah sejak 7 tahun terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita akan masuk ke dalam pasar aspal karet untuk meningkatkan pemanfaatan domestik, kenaikan material aspal memang jadi naik 20% tapi kualitas aspalnya menjadi lebih baik. Umur dari aspal karet juga jauh lebih lama, dari sisi maintenance lebih baik," kata Panggah Susanto ditemui di Kemenperin, Rabu (6/1/2015).

Panggah menjelaskan, industri penyuplai karet untuk produksi aspal dalam skala kecil sudah ada dan tahun ini akan mencoba produksi pada skala yang lebih besar.

"Kita kerja sama juga dengan balai penelitian karet. Kalau produksi karet untuk aspal yang ada saat ini masih skala setengah pabrik dan bentuknya pilot plan," jelas Panggah.

Panggah mengatakan, meski belum berproduksi dalam skala besar, Kemenperin mendorong untuk menyiapkan teknologi agar mampu berproduksi massal.

"Secara teknis harus disipkan betul dan selesaikan masalah teknis. Teknologinya sudah ada, tapi benar—benar perlu dibuktikan dan teruji," tambahnya.

Karet, Panggah menjelaskan, selain bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku aspal, bisa langsung dimanfaatkan menjadi bahan baku bantalan karet pelabuhan atau dock fender menggunakan latex.

Panggah mengatakan, produksi karet per tahun mencapai 3 juta ton sementara konsumsi dalam negeri baru mencapai 550.000. Kondisi tersebut membuat anjloknya harga karet dunia turut memukul harga karet di Indonesia.

"Karet produksinya per tahun mencapai 3 juta ton, sementara konsumsi dalam negeri baru 550.000 ton. Paling tidak dalam waktu dekat aplikasi karet di dalam memungkinkan untuk bisa dibesarkan," ujarnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads