“Dari sekian banyak kebutuhan fasilitas pendukung, dua di antaranya adalah pabrik es dan industri garam yang menyokong pengawetan hasil laut mereka,” kata Menperin Saleh Husin usai menerima Walikota Kupang, Jonas Salean di Jakarta, Senin (1/2/2016).
Pembangunan pabrik es juga diintegrasikan dengan lokasi aktivitas nelayan seperti berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pengelola bisa dilakukan oleh koperasi, TPI atau kelompok usaha bersama (KUB) setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pasokan es balok ini berdampak langsung pada kualitas tangkapan. Bahkan Presiden Joko Widodo memberi perhatian pada pemenuhan kebutuhan cold storage ini,” ujar Menteri Saleh.
Potensi lestari sumber daya ikan laut Teluk Kupang hampir mencapai 20 ribu ton per tahun. Kupang juga menjadi pusat konsentrasi nelayan dari berbagai daerah seperti Sulawesi, Jawa, Madura dan NTB.
“Kami berharap pabrik es dapat mendukung cold storage sehingga jangka waktu pengawetan ikan lebih lama dan untuk memasok nelayan saat melaut,” jelas Walikota Kupang Jonas Salean.
Teknologi Penggaraman
Selain pabrik es, di Kupang juga akan dikembangkan industri garam lebih lanjut. Lahan yang tersedia seluas 1,5 hektare dan telah memproduksi garam 70 ton per hektare.
Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, menurut Jonas, garam juga digunakan pada pengawetan ikan tangkapan nelayan.
Kemenperin siap memadukan produksi es balok dengan teknologi penggaraman. “Dari produksi garam, produk sampingannya dapat digunakan untuk meningkatkan titik beku es balok. Dari biasanya hanya -4 derajat celsius bisa menjadi -10 derajat,” kata Direktur IKM Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur Ditjen IKM Kemenperin, Sudarto.
Dengan titik beku di level ini, imbuhnya, maka es mampu digunakan lebih lama terutama saat digunakan melaut oleh nelayan. Dia memperkirakan es dapat bertahan hingga 10 hari, sedangkan es yang diproduksi secara konvesional hanya sanggup bertahan 2-3 hari sebelum mulai mencair.
(hns/hns)











































