Daya Saing Industri RI Rendah karena Upah Buruh Hingga Suku Bunga Tinggi

Daya Saing Industri RI Rendah karena Upah Buruh Hingga Suku Bunga Tinggi

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 16 Feb 2016 16:36 WIB
Daya Saing Industri RI Rendah karena Upah Buruh Hingga Suku Bunga Tinggi
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Daya saing sektor industri Indonesia tergolong rendah jika disandingkan dengan beberapa negara tetangga di ASEAN. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Haris Munandar mengungkapkan, tiga faktor dominan yang membuat biaya produksi di Indonesia lebih tinggi.

Pertama, kata Haris, adalah upah pekerja yang tinggi. Menurutnya, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan upah buruh tertinggi di ASEAN setelah Singapura, dan Malaysia.

"Upah minimum pekerja di Indonesia merupakan yang tertinggi ketiga di ASEAN," jelas Haris saat rapat kerja Kemenperin 2016, di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia merinci, berdasarkan data yang dirilis Japan External Trade Organization (Jetro) tahun 2013, upah minimum Singapura secara rata-rata nasional per bulan adalah US$ 296, Malaysia US$ 296, Indonesia US$ 226, Filipina US$ 220, Thailand US$ 197, Vietnam US$ 113, Kamboja US$ 80, Laos US$ 78, dan Myanmar US$ 39.

Kedua, adalah tingkat suku bunga (interest rate) yang merupakan tertinggi kedua setelah Myanmar.

"Myanmar menerapkan interest rate tertinggi di kawasan. Untuk ASEAN, interest rate kita kedua, atau nomor 9 dalam hal daya tarik bagi dunia bisnis," papar Haris.

Data terakhir pada tahun lalu, suku bunga di ASEAN berturut turut Singapura 0,21%, Kamboja 1,42%, Thailand 1,5%, Malaysia 3,25%, Filipina 4%, Laos 4,5%, Brunaei Darussalam 5,5%, Vietnam 6,5%, Indonesia 7,5%, dan Myanmar 10%. Sekarang, suku bunga acuan BI atau BI rate dipangkas dari 7,5% menjadi 7,25%.

Ketiga, hal yang paling memberatkan dunia usaha domestik untuk bersaing, yakni harga gas yang sampai saat ini tercatat paling tinggi se-ASEAN.

"Harga gas untuk keperluan industri di Indonesia, relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya," jelas Haris.

Harga gas industri di Indonesia saat ini rata-rata di level US$ 9 setiap Million British Thermal Unit (MMBTU), disusul Vietnam US$ 7,5, Filipina US$ 5,43, Singapura US$ 4,5, dan Malaysia US$ 4,47. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads