Saat ini para pemerintah punya wacana pengenaan bea keluar hingga larangan ekspor bertahap bagi komoditas rumput laut dalam rangka hilirisasi. Tujuannya, pengusaha harus kreatif mengolah rumput laut tak perlu lagi menjual dalam bentuk mentah.
Sayangnya, tidak semua pengusaha setuju dengan rencana pemerintah ini. Beberapa di antaranya menolak karena sudah terbiasa mengekspor mentah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mendukung hilirisasi, ARLI mendukung sepenuhnya upaya pemerintah dalam penguatan dan penumbuhan industri olahan rumput laut nasional.
"Rumput laut penting bagi pemerintah, semua diolah, ini dibudidaya, ini yang menjadi masukkan ke pemerintah agar lebih bijak, kalau mau ambil keputusan dan program diperhatikan dulu dari hulu dan hilir dampaknya ke depan," ujar Safari.
Perlindungan terhadap sektor hulu juga perlu diperhatikan dengan baik karena pembatasan ekspor rumput laut memiliki dampak sosial ekonomi yang cukup serius, terutama bagi kesejahteraan petani karena rumput laut merupakan salah satu alat jaring pengaman sosial.
"Kalau ekspornya dibatasi, tentu akan merusak harga rumput laut di tingkat petani di mana pihak-pihak tertentu dapat menekan harga ke tingkat yang lebih rendah, karena dikhawatirkan nantinya petani tidak akan berminat untuk budidaya rumput laut lagi," kata Safari.
Pemerintah, yaitu Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, berniat membatasi ekspor rumput laut mentah. Upaya ini dilakukan supaya para pengusaha bisa mengolah rumput laut terlebih dahulu ketimbang mengekspornya secara mentah.
Sebab, dengan diolah terlebih dahulu, nilai rumput laut akan bertambah dan semakin tinggi ketimbang hanya dijual mentah. (ang/ang)











































