Tumiran menjelaskan, menggunakan mobil listrik memerlukan konsumsi energi Rp 800-900 per kWh. Sedangkan mobil dengan BBM memerlukan Rp 10.000 per liternya.
"Jadi kalau mobil ber-BBM dengan Rp 10.000 hanya bisa menghasilkan 3 Kwh, karena tarif listrik per kWh sebesar Rp 3.000, berarti bisa 30-an persen kan. Kalau dibandingkan minyak ya," ujar Tumiran kepada detikFinance, Kamis (10/3/2016)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kan gini, saya sebagai orang DEN ya itu yang harus ditinjau adalah regulator pemerintah. Pemerintahnya harus punya visi yang betul. Kalau pemerintah punya visi ya tinggal go ahead. Expert-expertnya itu tinggal diambilin tuh orang-orang kampus perguruan tinggi, pasti bisa." ujar Tumiran.
Tumiran juga menilai bahwa selama ini pengembangan mobil listrik masih dilakukan secara sporadis. Tumiran menyarankan agar ke depannya mobil listrik tidak dikembangkan secara sporadis lagi.
Sporadis maksudnya, pengembangan mobil listrik tidak terencana dengan baik dan para pengembang cenderung bergerak sendiri-sendiri.
"Kalau selama ini kan kegiatannya sporadis. Mau jadi, nggak jadi. Mau jadi, nggak jadi." jelasnya. (hns/ang)











































