LIPI: Anggaran Riset Mobil Listrik Nggak Sekencang Dulu

LIPI: Anggaran Riset Mobil Listrik Nggak Sekencang Dulu

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Jumat, 11 Mar 2016 16:36 WIB
LIPI: Anggaran Riset Mobil Listrik Nggak Sekencang Dulu
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan salah satu lembaga yang aktif pada pengembangan purwarupa atau prototype mobil listrik nasional. Berbagai varian purwarupa pernah dilahirkan seperti mobil listrik tipe sedan dan bus untuk executive meeting.

Kini, pengembangan dan penyempurnaan mobil listrik tak lagi bergairah. Peneliti mobil listrik LIPI mengakui adanya penurunan alokasi anggaran.

"Program bukan berhenti tapi nggak sekencang dulu aja, masalah kasih anggaran nggak seperti dulu," kata salah satu peneliti mobil listrik LIPI, Abdul Hafidz kepada detikFinance, Jumat (11/3/2016)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat anggaran mulai tersendat, Hafidz mengakui proyek mobil listrik di LIPI sedikit mengendur, padahal roadmap mobil listrik nasional menargetkan produksi massal bisa dilakukan mulai 2018 atau 2019.

"Kalau LIPI sudah lama mengembangkan itu (mobil listrik) kalau berbicara anggaran terseok-seok. Dibanding tahun sebelumnya, kita sedikit agak terseok-seok," tambahnya.

Dalam program pengembangan mobil listrik, LIPI melibatkan 20 orang peneliti atau insinyur. Insinyur itu tetap bekerja meski tidak sekencang dahulu. Hafidz berharap pengembangan mobil listrik kembali digencarkan. Setidaknya, harus ada visi ke mana arah mobil listrik nasional.

"Kepastian program, mau diapain ke depannya," sebutnya.

Hafidz mengakui peran negara sangat dominan di negara-negara produsen otomotif, di antaranya langkah Pemerintah China dan India yang sangat gencar mendukung riset mobil listrik. Kehadiran negara sangat dibutuhkan karena dapat merangsang produk yang belum masuk skala ekonomi.

Dengan kehadiran negara, investor atau industri otomotif mulai yakin untuk masuk ke produksi mobil listrik karena ada visi dan dukungan proyek mobil listrik yang jelas.

"Tetap negara penting, karena dunia usaha lihat sejauh mana komitmen negara ke industri," ujarnya. (feb/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads