"Industri minuman turut menggerakkan ekonomi dari produksi, penanaman modal, penyerapan lapangan kerja," ujar Saleh dalam keterangan tertulis, Kamis (31/3/2016).
Pola ekspansi perusahaan minuman, imbuh dia, juga menggerakkan ekonomi di daerah karena pelaku usaha berusaha memperkuat pemasaran dengan mendekatkan produksi dan distribusi ke konsumen. Berdirinya pabrik dan pusat distribusi termasuk pergudangan menjadi buktinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Menteri Saleh mencermati, kehidupan bermasyarakat turut mendorong konsumsi minuman ringan yang terbilang unik. Produk minuman bahkan menjadi bagian dari interaksi sosial sehari-hari.
"Lihat saja, pada pesta perkawinan dan acara keluarga, minuman ringan selalu dihidangkan sebagai salah satu jamuan favorit. Selain air putih dan teh, juga ada minuman berkarbonasi atau yang lebih dikenal sebagai minuman soda," ujar Menperin. Selain itu, konsumen mulai terbiasa menjamu tamu di rumah dengan minuman ringan dalam kemasan karena lebih praktis.Â
Dalam pertemuan itu, Kadir menyampaikan pihaknya bakal mengoperasikan pusat distribusi atau Mega Distribution Center ke-4 dan lini produksi ke-6 di Surabaya.
Guna mewujudkan dua fasilitas di Jawa Timur itu, perseroan membelanjakan investasi sebesar US$ 63 juta atau setara Rp 819 miliar (kurs Rp 13.000 per dolar AS).
"Diharapkan, pusat distribusi itu mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini," kata Kadir.
Dia mengakui, Indonesia adalah kontributor terbesar kedua di Coca-Cola Amatil Group dan yakin masih ada banyak peluang produksi serta pemasaran yang dapat dimaksimalkan.
Di Indonesia, The Coca Cola Company telah menegaskan tambahan investasi senilai USD 500 juta untuk mendukung akselerasi perluasan sistem produksi, penyimpanan (warehousing) dan infrastruktur untuk pengadaan minuman dingin. Sedangkan Coca-Cola Amatil Indonesia telah berinvestasi total lebih dari USD 1,5 miliar di Indonesia. (hns/hns)











































