Di India Angkut Garam Pakai Truk, RI Masih Pakai Sepeda

Di India Angkut Garam Pakai Truk, RI Masih Pakai Sepeda

Hans Henricus BS Aron - detikFinance
Selasa, 05 Apr 2016 08:37 WIB
Di India Angkut Garam Pakai Truk, RI Masih Pakai Sepeda
Foto: dikhy sasra
Jakarta - Produksi garam harus digenjot agar bisa memenuhi pasokan untuk rumah tangga maupun industri di dalam negeri. Menurut Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk, ada 2 cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menggenjot produksi garam lokal.

Pertama, melalui intensifikasi yaitu memperbaiki saluran-saluran primer, memperbaiki infrastruktur jalan sehingga truk bisa masuk dan mengangkut garam.

"Kalau di India di setiap lahan produksi garam masyarakat sudah dilengkapi dengan jalan, jadi ada truk tinggal mengangkut. Kalau sekarang di kita kan masih pakai sepeda dikarungin," ujar Tony saat berkunjung ke kantor detikcom, Senin  (4/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, pembenahan lahan-lahan garam eksisting. Caranya, mengumpulkan lahan-lahan produksi garam masyarakat yang masih terpencar, yang umumnya memiliki luas 1 hektar agar tercapai skala keekonomian.

"Sepanjang masih 1 hektar, 1 hektar, 1 hektar, HPP akan tinggi yaitu Rp 550 sampai Rp 600 per kilogram," kata Tony.

Kedua, melalui ekstensifikasi yaitu penambahan lahan garam baru. Menurut Tony, masih ada lahan-lahan garam yang belum dimanfaatkan optimal di luar Pulau Jawa, contohnya di Provinsi NTT. Diperkirakan luas lahan garam di NTT yang belum dioptimalkan sebesar 10.000 hektar.

"Di NTT potensial dimanfaatkan untuk lahan garam karena memiliki musim kemarau yang panjang dan tersedia lahan yang cukup luas," terang Tony.

Tony menambahkan, saat total ladang garam potensial seluas 26.000 hektar. Ladang garam  itu tersebar Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan. (hns/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads