Pertama, melalui intensifikasi yaitu memperbaiki saluran-saluran primer, memperbaiki infrastruktur jalan sehingga truk bisa masuk dan mengangkut garam.
"Kalau di India di setiap lahan produksi garam masyarakat sudah dilengkapi dengan jalan, jadi ada truk tinggal mengangkut. Kalau sekarang di kita kan masih pakai sepeda dikarungin," ujar Tony saat berkunjung ke kantor detikcom, Senin (4/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepanjang masih 1 hektar, 1 hektar, 1 hektar, HPP akan tinggi yaitu Rp 550 sampai Rp 600 per kilogram," kata Tony.
Kedua, melalui ekstensifikasi yaitu penambahan lahan garam baru. Menurut Tony, masih ada lahan-lahan garam yang belum dimanfaatkan optimal di luar Pulau Jawa, contohnya di Provinsi NTT. Diperkirakan luas lahan garam di NTT yang belum dioptimalkan sebesar 10.000 hektar.
"Di NTT potensial dimanfaatkan untuk lahan garam karena memiliki musim kemarau yang panjang dan tersedia lahan yang cukup luas," terang Tony.
Tony menambahkan, saat total ladang garam potensial seluas 26.000 hektar. Ladang garam itu tersebar Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan. (hns/wdl)











































