Akibatnya, posisi tawar negara-negara eksportir kopi lemah. Bahkan saat pasokan kopi di pasar dunia kurang, harga kopi bisa ditekan rendah, negara-negara eksportir kopi seperti Indonesia pun dirugikan.
Untuk melepaskan diri dari kendali negara-negara asing ini, Indonesia berniat membuat bursa berjangka sendiri untuk kopi. Agar pengendalian bisa lebih kuat, Indonesia bakal menggandeng Vietnam, negara tetangga yang juga sesama eksportir kopi utama dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Vietnam sudah bilang mereka akan dukung kita untuk punya fisik di Indonesia. 2-3 tahun lalu mereka sudah janji mau (jual kopi lewat bursa berjangka di Indonesia)," ungkap Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto, saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).
Dia menambahkan, hukum di Vietnam tidak mengizinkan adanya bursa berjangka di dalam negerinya. Ini kesempatan besar bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan Vietnam dalam pengendalian harga kopi.
Bila proses pembentukan bursa kopi di Indonesia lancar, Pranoto berjanji akan segera melobi Vietnam.
"Vietnam itu tidak boleh melakukan bursa berjangka karena dilarang di hukumnya. Kalau ini sudah matang, saya berangkat melobi Vietnam," tuturnya.
Bila Indonesia bisa meningkatkan harga kopi di pasar dunia, tentu para petani kopi di dalam negeri bisa lebih sejahtera. Maka rencana pengendalian harga kopi melalui bursa berjangka di dalam negeri perlu segera direalisasikan.
"Itu (bursa kopi di Indonesia) harus terealisasi ini kesempatan, target saya jadi 3 bulan. Kalau (bursa kopi) di Jakarta, kita yang menentukan (harga)," tandasnya.
Berdasarkan data AEKI, nilai ekspor kopi Indonesia tahun 2015 mencapai US$ 1,2 miliar. 79% kopi yang diekspor adalah kopi robusta, 20% kopi arabica, dan 1% liberica. Terdapat 1,2 juta hektar (ha) perkebunan kopi di Indonesia, tapi hanya 950 ribu ha saja yang produktif. (hns/hns)











































