Follow detikFinance
Sabtu 18 Jun 2016, 14:40 WIB

Laporan dari Fabriano

Sederhana Ala Merloni, Pewaris 'Tahta' Pemanas Air Kelas Dunia asal Italia

Triono Wahyu Sudibyo - detikFinance
Sederhana Ala Merloni, Pewaris Tahta Pemanas Air Kelas Dunia asal Italia Foto: Dok. Ariston Thermo
Fabriano - Bisa dibilang, Paolo Merloni (48) memiliki segalanya. Uang, perusahaan, aset, 'darah' orang top, dan lain-lain. Namun pewaris 'tahta' pemanas air kelas dunia asal Italia memilih bersikap dan berpikir sederhana. Hal yang agak langka untuk tokoh ternama.

Tak sampai 15 menit kami, tiga jurnalis Indonesia, menunggu di ruang pertemuan kantor Ariston Thermo Grup di Fabriano, Marche, Italia, Selasa (14/6/2016). Sesosok tinggi kurus muncul dari pintu, kepalanya plontos. Bagi penyuka sepak bola, wajah dan penampilan itu mengingatkan akan sosok Rio Ferdinand, libero timnas Inggris.

"Selamat datang. Terima kasih telah datang jauh-jauh dari Indonesia," kata Merloni dalam bahasa Inggris. Dia menyalami kami satu per satu. Senyumnya mengembang, matanya berbinar menatap setiap orang di ruangan berukuran 4x5 meter itu.

Kami berkunjung ke kantor pusat Ariston Thermo Grup di Fabriano bersama President Director Ariston Thermo Indonesia, Richard Chua, dan Marketing Director Ariston Thermo Indonesia, Feranti Susilowati. Selain bertemu Merloni, kami diajak melihat proses produksi pemanas air di Genga Plant, kota kecil yang berbatasan dengan Fabriano.

Penampilan Merloni tampak simpel dan tidak terlalu necis. Berjas abu-abu, tidak berdasi. Sepatu hitamnya tidak mengkilat.

Dari pihak Ariston Thermo, hanya Alessio Bianchini, Press and External Relations Manager, yang menemani Merloni. Sebelum wawancara dimulai, Alessio meminta Merloni berpose bersama Richard Chua untuk diambil foto. Merloni juga diminta foto seorang diri. "Mereka ingin Anda berpose santai," kata Alessio kepada Merloni sambil melirik kami.

"Oh, begitukah?" kata Merloni membelalakkan mata. Executive Chairman Ariston Thermo ini memandang kami. Kemudian mencopot jas seolah ingin meninggalkan kesan formal, duduk di kursi lalu berdiri di dekat kaca dengan background perbukitan Fabriano. Kami tak diizinkan memotret karena sudah ada fotografer perusahaan.

Kami hanya bisa mengawasi. Sesekali tertawa karena Merloni tidak jaim dalam bergaya.

"Sudah cukup kan?" tanya Merloni sambil mengambil jas, tapi dia tidak memakainya lagi. Kami mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu tertawa bersama.

Kami duduk. Setelah sesi perkenalan, perbincangan pun dimulai. Merloni menyampaikan beragam perkembangan secara global. Termasuk alasan membuka kantor perwakilan di Indonesia setahun lalu. Menurut dia, Ariston telah hadir di Indonesia selama 15 tahun melalui jaringan distributor.

"Kami hadir untuk mendekatkan diri ke konsumen. Indonesia termasuk negara yang ekonominya stabil, prospeknya bagus, jadi tidak ada alasan untuk tidak memperkuat posisi (di Indonesia)," katanya.

Ariston didirikan Aristide Merloni, kakek Merloni. Perusahaan kian berkembang di tangan ayah Merloni, Francesco Merloni. Merloni mewarisi 'tahta' pada tahun 2010. Lulusan Univesitas Bocconi Milan tahun 1992 ini sebelumnya mengawali karier sebagai analis bisnis di McKinsey and Company di Madrid, kemudian bergabung dengan Ariston Thermo pada tahun 1995. Setelah kenyang pengalaman, dia memegang tampuk kepeimpinan bisnis keluarganya hingga saat ini.

Ariston Thermo memiliki 6.600 pekerja di berbagai negara. Pabrik tersebar di 12 negara. Tahun 2014, sebanyak 7,4 juta produk terjual di 150 negara.

Hampir semua hal, mulai dari merawat bisnis keluarga hingga mengembangkannya hingga mendunia, sudah direngkuh, apa obsesi Merloni selanjutnya? Merloni berpikir sejenak, kemudian buru-buru menambahkan,"Hm, tidak ada hal khusus, hanya mengembangkan bisnis."

Tidak adakah kemungkinan masuk politik seperti pengusaha kelas kakap lain di banyak negara, termasuk Indonesia? Masuk ke partai politik atau mendirikan partai politik, misalnya? "Hm, tidak. Ayah saya mungkin sedikit suka (politik), tapi saya tidak," kata ayah tiga anak ini.

Selain menangani Ariston Thermo, Merloni aktif di berbagai kelompok bisnis. Ketika ditanya apa yang dilakukan di luar urusan bisnis, dia mengaku tidak ada. Soal hobi, dia juga mengaku tidak memiliki kegiatan khusus.

"Hanya berkumpul bersama keluarga," kata pria kelahiran 1968 ini.

Kebiasaan di atas tampak terlalu sederhana untuk pria kaya raya dan sosok kunci bagi bisnis keluarga. Mirip seperti kehidupan di Fabriano, tempat kelahiran perusahaan, yang berjarak 200-an kilometer dari Roma. Tenang, jauh dari ingar-bingar gemerlap kota-kota besar di Italia.

Setelah satu jam, perbincangan diakhiri dengan sesi foto bersama. Kali ini bukan hanya Merloni yang santai, tapi semua. Sebab, bos pemanas air asal Italia itu bisa dan telah mencairkan suasana dengan sikap dan pikiran sederhananya.




(trw/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed