"Anggaran Gernas Kakao tahun ini mengalami pemangkasan menjadi sekitar Rp 235 miliar. Sebelumnya dianggarkan Rp 1 triliun di tahun 2016," kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Gamal Nasir dalam diskusi di Hotel Aston TB Simatupang, Jakarta, Senin (20/6/2016).
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya mengatakan, hal ini dipandang sebagai langkah yang kurang bijaksana di tengah tingginya nilai ekonomi industri ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Rp 1 triliun itu bisa dipertahankan, kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa melakukan penyuluhan, penambahan stok benih, subsidi pupuk dan sebagainya. Ini momentum yang bagus, karena harga kakao dunia sedang tinggi. Saat ini di tingkat petani bisa Rp 40.000/kg," tutur dia.
Perkebunan kakao Indonesia, sambung dia, sebenarnya punya potensi yang besar untuk terus dikembangkan.
"Karena, tanaman kakao Indonesia itu produktivitasnya cukup tinggi. Kita dengan 1,7 juta hektar kebun kakao, produksi kita tahun ini bisa 400 ribu ton. Kalau negara lain seperti Pantai Gading, butuh lahan yang sangat luas sampai 3 juta hektar baru bisa dapat produktivitas yang tinggi," pungkas dia. (hns/hns)











































