Sebagai contoh, menurut catatan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), tahun lalu kebutuhan gula nasional 6 juta ton atau setara 6,38 juta ton gula mentah. Namun, produksi dalam negeri hanya sekitar 2,47 juta ton.
Alhasil, ada defisit sekitar 3,53 juta ton yang harus ditutup dengan impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga negara ini merupakan eksportir utama raw sugar ke Indonesia. Selain itu, Brasil, Australia, dan Thailand juga produsen utama raw sugar di dunia bersama Amerika Serikat, India, Uni Eropa, Kuba, dan Afrika Selatan.
Menurut Benny, Tahun ini impor gula mentah untuk bahan baku gula rafinasi telah ditetapkan sebanyak 3,2 juta ton. Setelah menjalani proses pengolahan, gula mentah impor tersebut akan menghasilkan sekitar 3 juta ton gula rafinasi.
Namun, dia menambahkan, kuota impor raw sugar yang diberikan pemerintah untuk bahan baku rafinasi tidak sebanding dengan kebutuhan industri. Seperti diketahui, gula rafinasi adalah bahan baku untuk industri makanan dan minuman serta untuk farmasi.
"Kenaikan kuota impor raw sugar setiap tahun ditetapkan sebesar 5%. Padahal rata-rata pertumbuhan industri makanan dan minuman berkisar 7% per tahun," tutur Benny. (hns/wdl)











































