Thailand, salah satu negara produsen gula mentah, sudah menutup keran ekspor gula mentah karena kehabisan stok. Akibatnya, harga gula mentah di pasaran semakin mahal. Melihat kondisi pasar yang seperti ini, para importir gula mentah khawatir tak kedapatan barang.
Gula mentah dibutuhkan untuk diolah menjadi gula rafinasi atau gula kristal putih. Gula rafinasi akan dipakai oleh industri, terutama industri makanan dan minuman (mamin).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi gula di dunia sedang mengalami penurunan akibat anomali iklim. Rendemen (perbandingan antara tebu yang digiling dengan gula yang dihasilkan) juga menjadi rendah karena musim hujan yang terlalu panjang. Tebu jadi terlalu basah ketika digiling, sehingga rendemen gula yang dihasilkan lebih sedikit.
Para importir gula mentah meminta pemerintah mempercepat pemberian izin impor untuk kuartal IV. Mereka minta izin impor diberikan sekaligus sekarang agar bisa segera memesan gula sebelum kehabisan dan harganya makin tinggi.
"Kemungkinan musim gilingnya juga mundur karena hujannya terus menerus, rendemen jadi rendah, mundur 2-3 bulan ini. Maka harus dipastikan stok di dalam negeri ada. Ada surat dari asosiasi supaya jatah kuartal IV dimasukkan karena stok dan tidak menentunya panen ke depan di negara-negara sumber gula, harga juga naik terus. Mereka minta fleksibilitas," ujar Panggah.
Dia menambahkan, jatah impor gula mentah tahun ini sebesar 3,2 juta ton kemungkinan tak cukup. Pertumbuhan industri mamin tahun ini di atas 5%, lebih tinggi dari yang diprediksi, maka kebutuhan gula rafinasi juga naik di atas 5%. Kalau stok gula rafinasi sampai kurang, kegiatan produksi mamin bisa terganggu.
"Untuk industri yang besar-besar mungkin masih terlayani, tapi yang kecil-kecil banyak bilang ke saya nggak terlayani. Angka 3,2 juta ton itu kan naiknya 5%, industri mamin selama triwulan I kemarin tumbuh 7%. Triwulan II bisa lebih tinggi karena Lebaran. Belum lagi Natal dan Tahun Baru," ungkapnya.
Panggah mempertimbangkan untuk menambah kuota impor gula mentah. Perhitungan ulang akan segera dilakukan.
"Kita belum tahu perlu tambahan atau tidak, nanti kita rapat. Kita lagi mengumpulkan data serapannya bagaimana, sesuai prediksi apa nggak. Tapi di triwulan I jelas nggak sesuai," pungkasnya. (feb/feb)











































