Hal tersebut diungkapkan oleh President Director Astra International, Prijono Sugiarto saat jumpa pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/8/2016).
"Sepeda motor 6,2 juta tahun ini, tahun lalu 6,4. Kita harus lihat bahwa ini sudah titik paling bawah tapi Astra turut menikmati model baru cara menjual kita menyebabkan market share kita naik," terang Prijono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semester I market share roda dua 73%, roda empat 51%. Kelihatannya ada kebangkitan dari pada purchasing power atau daya beli masyarakat Indonesia. Paling tidak sudah bottom up perlahan tapi pasti," tutur Prijono.
Lanjut Prijono, anak usaha Astra yang paling terpukul sebetulnya sektor jasa keuangan dan alat berat. Angka kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) Bank Permata yang mayoritas sahamnya dimiliki Astra Grup meroket ke angka 4,6% dari batas maksimal sebesar 5% yang diatur OJK.
Penurunan penjualan alat berat juga turut menyumbang koreksi laba bersih Astra sebesar 12%. Rendahnya harga komoditas menyebabkan industri pertambangan lesu sehingga mempengaruhi permintaan terhadap alat berat.
"Di sisi Astra turun itu adalah jasa keuangan dan alat berat pertambangan. Kalau dilihat asuransi di luar redemption tahun lalu masih oke," tutup Prijono. (feb/feb)











































