Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Sep 2016 12:10 WIB

Mengintip 'Pabrik' Garam di Pesisir Pantura

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Jepara - Tumpukan keranjang berisi penuh garam diletakkan begitu saja di pinggir jalan poros Jepara-Demak. Di tepi jalan, gubuk beratap ijuk dan berdinding bambu dibangun pada setiap jarak sekitar 100 meter. Bangunan dengan satu pintu masuk ini difungsikan sebagai gudang garam.

Garam-garam tersebut ditumpuk di pinggir jalan dan gubuk hingga mencapai 8-10 ton, untuk kemudian siap diangkut menggunakan truk ke pabrik pengolahan garam di Semarang dan Pati.

Saat itu hari sudah senja, sehingga hamparan ratusan petak garam tersebut sudah ditinggal pemiliknya. Tak terlihat satu pun petani garam di tambak yang berada selemparan baru dari pesisir Pantai Utara atau Pantura ini.

Petani garam di Jepara umumnya bekerja memanen garam dari pagi sampai siang hari, dan sudah pulang ke rumah sebelum matahari memerah di ufuk Barat.

Sementara itu, tambak-tambak petani garam membentang sepanjang garis pantai dari Jepara sampai ke wilayah Kabupaten Pati. Setiap petak tambak rata-rata memiliki luas 12x20 meter, dengan kedalaman sekitar 30 centimeter.

Lantaran dua hari sebelumnya disapu hujan, membuat butiran garam yang seharusnya dipanen hari ini terkikis hujan. Hanya air laut dan sedikit butiran garam yang masih terlihat di permukaan. Petani garam harus kembali mengisi airnya dan menunggu 3-5 hari lagi sebelum air laut yang menguap bisa kembali dipanen menjadi garam, atau saat ketebalan kristal garam mencapai setidaknya 2 centimeter.


Tambak garam tersebut berada di Desa Kedung Dalam, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Air baku sendiri dialirkan langsung dari laut lewat kanal kecil, kemudian dipompa yang digerakkan dengan kincir angin sederhana dari lempengan kayu.

Ukuran kincir angin yang dibuat petambak garam tak seragam. Yang terkecil dengan diameter kipas 1 meter tinggi 1 meter, sampai yang tertinggi 4 meter dengan diameter kipas 2 meter.

Saat air laut sudah dianggap cukup, kincir kayu tersebut akan diikat dengan tali supaya berhenti memompa air laut dari kanal kecil.

Tambak-tambak tersebut sendiri beralaskan tanah. Cara tradisional ini pula yang membuat hasil produksi dan kualitas produksi garam di Kecamatan Kedung, Jepara ini kalah ketimbang petani garam dari Madura.


Beberapa petak tambak memang sudah menggunakan terpal plastik atau geo membran bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dengan pemisahan tanah dan air laut lewat terpal, membuat kualitas garam yang dipanen lebih putih dan bersih. Selain itu, terpal juga membuat jumlah garam yang dihasilkan meningkat 2 kali lipat ketimbang beralas tanah, lantaran penguapan yang lebih maksimal.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara, Achid Setiawan mengatakan, luas lahan yang berada di Kecamatan Kedung sendiri mencapai 550 hektar tambak, dengan jumlah petambak sekitar 500 orang petani.

"Makanya kita kasih stimulan bantuan terpal, saat ini baru 10% dari lahan tambak yang sudah menggunakan geo membran. Itu semua bantuan, kalau bisa semua petani bisa membeli sendiri setelah melihat hasilnya lebih baik," kata Achid kepada detikFinance, Senin (5/9/2016).


Menurut hitungannya, setiap hektar lahan tambak beralas tanah bisa menghasilkan 50-60 ton dalam setiap tahun, sementara jika alas tambak ditutup terpal garam yang dihasilkan mencapai 100 ton, dengan kualitas garam lebih bersih.

"Masalah yang dihadapi petani garam saat ini adalah harga garam yang terlalu rendah. Mereka hanya bisa menjual lewat tengkulak, karena tidak ada pabrik pengolahan garam di Jepara. Satu kilogram hanya laku Rp 300/kg," jelas Achid.

Dia melanjutkan, dari 6 bulan musim kemarau, sebenarnya hanya periode Juli-September saja tambak di Jepara bisa dipanen garamnya. Sementara saat musim hujan, petak garam dialihfungsikan menjadi tambak ikan bandeng.

"Tapi bagi petani menurut mereka lebih menguntungkan dari garam. Kalau bandeng lebih repot pemeliharaannya, untungnya lebih sedikit. Makanya mereka andalkan garam daripada bandeng. September ini harusnya panen puncak, tapi ada La Nina hujan jadi lebih sering, produksi jadi kurang," tutup Achid.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed