RI Punya Garis Pantai Panjang, Tapi Kenapa Masih Impor Garam?

RI Punya Garis Pantai Panjang, Tapi Kenapa Masih Impor Garam?

Yulida Medistiara - detikFinance
Senin, 26 Sep 2016 22:00 WIB
RI Punya Garis Pantai Panjang, Tapi Kenapa Masih Impor Garam?
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki garis pantai yang panjang di dunia. Namun, dengan kondisi tersebut mengapa Indonesia masih impor garam?

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan hal ini dipengaruhi oleh cuaca atau curah hujan dan lahan yang tersedia untuk produksi garam. Hal itu karena garam harus diproduksi di darat, bukan di laut sementara garam harus dicetak di darat seperti petak sawah.

Indonesia memiliki 2 musim, yaitu hujan dan kemarau. Di NTT dan NTB memiliki curah hujan yang berlangsung sekitar 1 bulan setiap tahunnya sehingga merupakan lahan yang potensial untuk memproduksi lahan, tetapi menurut Faisal saat ini pemerintah tertarik untuk menghidupkan pariwisata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Garam itu harus garap di darat harus dicetak di sawah. Sementara di NNT-NTB potensial, curah hujannya relatif cuma 1 bulan dalam 1 tahun tapi sekarang NTT dan NTB lebih mengutamakan turisme karena lebih tinggi," kata Faisal, di Restaurant Penang Bistro, Jakarta Pusat, Senin (26/9/2016).

Sementara itu, beberapa lokasi lainnya yang memiliki cuaca atau curah hujan lebih banyak dari pada NTT dan NTB di dorong untuk menjadi penghasil garam. Oleh karenanya produksi garam menjadi kurang menentu karena adanya hujan di beberapa waktu.

Kepala Bidang Pengembangan dan Teknologi Garam, Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Arthur Tanudjaja mengatakan ada sekitar 26.064 lahan garam di Indonesia, di mana yang terbesar ada di 3 area yaitu Jawa Tengah sekitar 6000 hektar, Jawa Barat hampir 6000 hektar, dan Jawa Tengah hampir 5.000.

"Kenapa garam sangat sensitif dengan cuaca, tekait curah hujan, di daerah sentra garam ini terutama Jabar terkait produktifiitas garam di daerah tersebut. Pada tahun 2015 total la nina, dari beberapa tahun ke belakang hampir 40% dari produksi nasional itu hampir semuanya jatuh, harusnya regulasi ini bagaimana kestabilan pengembangan industri ini tergantung pada reguasi yang panjang tidak berdasarkan musim," kata Arthur.

Ia mengatakan, saat ini dari produksi di berapa sentra penghasil garam terdapat jumlah petani garam yang berfluktuatif antara 13.000 hingga 21.000. Hal itu juga tergantung musim.

"Kalau musim hujan petani nggak produksi," kata Arthur.

Terancam Gagal Panen

Ia memperkirakan produktivitas tinggal 2 bulan lagi, tetapi bila terus diguyur hujan atau air laut masuk ke wilayah pertambakan tidak akan berhasil. Hal itu karena membutuhkan waktu untuk evaporasi air laut untuk membutuhkan pembentukan kristal selama hampir 6 minggu.

"Dengan ada kondisi sekarang la nina, itu produksi garam kalau sampai mid Oktober sudah masuk masih ada turun hujan misalnya hujannya tidak besar berskala 10 ml-30 ml tapi dia dalam bulan Oktober itu setengah bulan hujan itu seleai. Kalau ada teknologi yang sekarang itu saya anggap 2016 bisa-bisa gagal panen," kata Arthur.

Produksi garam petani adalah untuk konsumsi. Namun, ia khawatirkan jika suplai garam terganggu sehingga pemerintah harus antisipasi.

"Kalau dari konsumsi ini antara 1- 1,1 juta ton yang konsumsi di direct, 2016 dengan gagal panen itu antisipasi pemerintah gimana, ini hanya konsumsi saja. Ini yang membuat lampu kuning bingung gimana supai antisipasinya, tapi memang sekarang belum kelihatan karena masih ada stok tahun lalu," kata Arthur.

Ia memprediksi produksi garam lokal untuk konsumsi dalam kondisi kritis. Namun, hal ini belum terlihat karena ada stok tahun lalu tetapi kondisi ini disebut prihatin.

"Prediksi akhir Desember-Januari bisa kritis untuk di konsumsi, bukan untuk industri, untuk industri dia kan demandnya konstan, tapi yang untuk konsumsi ini jadi 2016 ini sangat prihatin," imbuhnya. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads