Kualitas Garam Lokal Dikeluhkan Industri, Ini Respons KKP

Kualitas Garam Lokal Dikeluhkan Industri, Ini Respons KKP

Yulida Medistiara - detikFinance
Selasa, 27 Sep 2016 11:24 WIB
Kualitas Garam Lokal Dikeluhkan Industri, Ini Respons KKP
Foto: Muhammad Idris
Jakarta -

Garam lokal produksi petani dikeluhkan pelaku industri karena produksinya belum memenuhi kebutuhan dan spesifikasi kualitas industri. Untuk meningkatkan kualitas dan produksi petani lokal, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyusun Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) tentang pengendalian impor komoditas pergaraman.

Dalam aturan itu semua importir harus menyerap garam lokal minimal sejumlah garam yang diimpor, kalau misal kebutuhan industri sekian harus juga menyerap juga dari industri lokal. Namun, pengusaha garam mengeluhkan kualitas dan produksi yang belum sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

Pemerintah saat ini tengah menyusun strategi untuk meningkatkan kualitas dan produksi petani garam yang ada di dalam Permen KKP yang sedang dibahas itu. Salah satunya dengan program petani garam geo membran dan melalui program PUGAR yang diadakan untuk mengkonsilidasikan lahan petani dengan menyamakan pola tanam dan pola tani yang baik sambil diberikan pendampingan.

"Di konsolidasikan kan lahan petani itu kecil-kecil 1-2 hektar kan, nah ini di konsolidasikan menjadi 29-30 hektar-an. Kita nanti kelola supaya panennya bisa bersama-sama. Mereka itu kan punya tambak sebelah-sebelahan tapi milik masing-masing , kita konsolidasikan pola betanam dan bertaninya," kata Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi kepada detikFinance, Selasa (27/9/2016).

Nantinya dalam program tersebut kan dipantau dinas KKP dan didampingi PT Garam. Selain itu, pemerintah juga sedang membangun gudang garam untuk petani menyimpan produksinya agar memiliki posisi tawar yang baik.

"Kita berikan intervensi membangun gudang garam sehingga petani bisa memiliki posisi tawar yang lebih bagus. Saat ini petani semuanya dikelola oleh tengkulak dengan adanya gudang ini petani garam nanti menikmati koperasi petani itu," ujar Brahmantya.

Saat ini pemerintah sedang membangun di 6 lokasi, beberapa diantaranya ada di Pati Jawa Tengah, Cirebon Jawa Barat, Pamekasan Jawa Timur. Tahun 2017 ditargetkan akan ada 6 gudang lagi di beberapa titik.

Di dalam garam ini akan ada sistem jual beli yang disebut sistem resi gudang. Saat kondisi kemarau sedang baik, maka petani bisa menyimpan stok garamnya di gudang tersebut sehingga tidak lagi menjual habis garamnya seperti sebelumnya sehingga pasokannya tersedia.

"Saat ini petani garam tidak bisa menyimpan karena kelompoknya belum memiliki gudang, ya intervensi kita seperti itu. Jadi bargaining position itu daya tawarnya naik, nanti beli melalui resi gudang sistemnya nanti kita siapkan, pengelolanya masyarakat KKP dan PT Garam mendampingi melalui sistem resi gudang," kata Brahmantya. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads