"Industri yang berbasis seperti kehutanan pulp and paper itu Indonesia nomor 6 di dunia. Nanti ada peresmian di kawasan Ogan Komering Ilir investasinya Rp 40 tiriliun kapasitasnya 4 juta ton, jadi nggak bener juga industri nggak ada investasi baru," kata Airlangga, di Graha Sucofindo, Jakarta Selatan, Senin (24/10/2016).
Salah satu investor yang menanamkan investasinya di sektor ini berasal dari dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada Serangan ke Industri Pulp and Paper Indonesia dari Luar
Airlangga mengatakan saat ini ada 10 juta hektar yang disiapkan untuk industri pulp and paper. Akan tetapi baru terpakai 4 juta hektar.
Hal itu karena terdapat serangan industri pulp and paper Indonesia dari negara luar. Ia mengatakan salah satu contoh misalnya bahan baku kertas saat masuk ke Cina dikenakan biaya masuk 10% hal ini lebih mahal daripada ketika masuk ke Indonesia.
"Contoh bahan baku kertas kita masuk ke Cina dikenakan baya masuk 10%. Kalau Indonesia lebih rendah," ujarnya.
Menurutnya, Indonesia mengalami serangan dumping dari negara lain sehingga sulit bersaing. Namun, saat barang lain masuk ke Indonesia negara tidak meningkatkan tarif barang yang masuk.
"Kalau kertas (Indonesia) di negara lain kena dumping kena Turki dan Amerika dumping, oleh karena dumping bisa di dalam persaingan, kadang-kadang kita dikenakan dumping padahal kita itu nggak berani karena masalah free trade tapi masalah konkretnya Cina saja tarifnya sangat berbeda, kalau Korea kalau agriculture sangat beda. (Indonesia) sangat rendah dibandingkan negara lain," ujar Airlangga. (dna/dna)










































