Menperin Sebut Bakal Ada Investasi Pabrik Kertas Rp 40 T di Sumsel

Menperin Sebut Bakal Ada Investasi Pabrik Kertas Rp 40 T di Sumsel

Yulida Medistiara - detikFinance
Senin, 24 Okt 2016 13:10 WIB
Menperin Sebut Bakal Ada Investasi Pabrik Kertas Rp 40 T di Sumsel
Foto: Yulida Medistiara
Jakarta - Kemenperin sedang mendorong pelaku industri untuk berekspansi maupun berinvestasi. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan akan ada investasi di Ogan Komering Ilir, Sumsel senilai Rp 40 triliun pada tahun 2017.

"Industri yang berbasis seperti kehutanan pulp and paper itu Indonesia nomor 6 di dunia. Nanti ada peresmian di kawasan Ogan Komering Ilir investasinya Rp 40 tiriliun kapasitasnya 4 juta ton, jadi nggak bener juga industri nggak ada investasi baru," kata Airlangga, di Graha Sucofindo, Jakarta Selatan, Senin (24/10/2016).

Salah satu investor yang menanamkan investasinya di sektor ini berasal dari dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"2017 investasi industri pulp di Ogan Komering Ilir. Investor nasionalnya Sinarmas," sambung dia.

Ada Serangan ke Industri Pulp and Paper Indonesia dari Luar
Airlangga mengatakan saat ini ada 10 juta hektar yang disiapkan untuk industri pulp and paper. Akan tetapi baru terpakai 4 juta hektar.

Hal itu karena terdapat serangan industri pulp and paper Indonesia dari negara luar. Ia mengatakan salah satu contoh misalnya bahan baku kertas saat masuk ke Cina dikenakan biaya masuk 10% hal ini lebih mahal daripada ketika masuk ke Indonesia.

"Contoh bahan baku kertas kita masuk ke Cina dikenakan baya masuk 10%. Kalau Indonesia lebih rendah," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia mengalami serangan dumping dari negara lain sehingga sulit bersaing. Namun, saat barang lain masuk ke Indonesia negara tidak meningkatkan tarif barang yang masuk.

"Kalau kertas (Indonesia) di negara lain kena dumping kena Turki dan Amerika dumping, oleh karena dumping bisa di dalam persaingan, kadang-kadang kita dikenakan dumping padahal kita itu nggak berani karena masalah free trade tapi masalah konkretnya Cina saja tarifnya sangat berbeda, kalau Korea kalau agriculture sangat beda. (Indonesia) sangat rendah dibandingkan negara lain," ujar Airlangga. (dna/dna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads