Pelarangan ekspor biji nikel mendorong pembangunan smelter-smelter di dalam negeri. Smelter-smelter nikel yang sudah terbangun ini kapasitas produksinya mencapai 5 juta ton stainless steel.
"Kemenperin melaporkan mengenai hilirisasi yang telah berjalan. Nah, salah satu yang menonjol itu bahwa semua komoditi tidak sama kemajuannya (hilirisasi). Nikel itu kita tahun depan itu 2 refinery akan memproduksi kira-kira 5 juta ton stainless steel. Kalau kita memproduksi 5 juta ton stainless steel, kita menjadi produsen nomor 2 di dunia sesudah China," kata Airlangga, usai rapat di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait rencana perpanjangan relaksasi ekspor mineral mentah pasca 11 Januari 2017, Airlangga menyatakan, hanya komoditas mineral yang smelternya belum cukup banyak saja yang akan diizinkan ekspor mentah.
Untuk komoditas yang sudah bisa diolah dan dimurnikan sepenuhnya di dalam negeri, tidak akan ada relaksasi. "Tentu (relaksasi) pada yang belum berjalan. Kalau sudah berjalan itu sudah bagus," tutupnya. (wdl/wdl)











































