Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikun, mengungkapkan pihaknya khawatir harga tebu akan kembali anjlok dengan masuknya gula impor tersebut.
Pasalnya dari hitungan, pasokan gula dalam negeri masih sangat mencukupi untuk satu tahun ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskannya, asumsi kebutuhan sebesar 2,7 juta ton berasal dari perhitungan konsumsi gula per orang per tahun 12 kg X 250 juta penduduk lalu dikurangi 10 %. Pengurangan 10% karena tidak semua orang minum gula dan adanya produk mamin impor.
Dia merici, impor gula tahun lalu tersebut antara lain PPI 300.000 ton, Bulog 267.000 ton ditambah 100 ribu ton white sugar, PTPN dan RNI 114.000 ton, comisioning test untuk PG KTM, PG Dompu, PG Glenmore sebesar 270.000 ton. Kemudian untuk PG Gorontalo 25.000 ton, dan PG Adi Karya Gemilang 50.000 ton. Serta ditambah gula untuk operasi pasar oleh Inkopol, Inkopkar dan koperasi lainnya sebanyak 400.000 ton.
"Ini belum menghitung gula rafinasi yang merembes ke pasar. Ada lagi gula konsumsi yang masuk secara ilegal lewat Selat Malaka dan sebagainya, itu bisa 100.000 ton. Jadi tahun ini tanpa perlu impor sudah cukup, bahkan kalau iklim tahun ini bagus, produksi lokal bisa lebih besar lagi. Harga bisa jatuh lagi," pungkas Sumitro.
Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Oke Nurwan, mengungkapkan impor dilakukan untuk menjaga stabilnya harga gula di dalam negeri. Pemerintah sendiri menetapkan harga gula konsumsi tertinggi di tingkat konsumen sebesar Rp 12.500/kg.
"Raw ini nantinya diserap oleh pabrik gula, dan dijual lewat distributor mereka Rp 12.500/kg. Sekarang kan harga gula (kisaran) Rp 14.000/kg," ucap Oke.
Sebagai informasi, beberapa produsen gula yang dapat izin impor tersebut antara lain PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata dunia Sukses Utama, PT Angels Product, PT Makassar Tene, PT Medan Sugar Industry, PT Jawa Manis Rafinasi, dan PT Duta Sugar International. (idr/dna)











































