Sri Mulyani: Sawit Ada di Dimensi Negatif Karena Kebakaran Hutan

Sri Mulyani: Sawit Ada di Dimensi Negatif Karena Kebakaran Hutan

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 02 Feb 2017 15:47 WIB
Sri Mulyani: Sawit Ada di Dimensi Negatif Karena Kebakaran Hutan
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menceritakan pengalamannya semasa masih menjabat sebagai salah satu Direktur Bank Dunia.

Pengalamannya ini, kata Sri Mulyani, sangat berkaitan dengan produk kelapa sawit. Di mana, setiap kali membicarakan soal produk kelapa sawit, persepsi dunia lebih mengarah kepada dimensi negatif, yakni soal fenomena kebakaran.

"Yang tentu saya alami di World Bank, selama 6 tahun setiap bicara kelapa sawit, pasti persepsi dunia lebih mix, ada di dimensi negatif, karena fenomena kebakaran hutan," cerita Sri Mulyani saat menjadi pembicara pada acara Pertemuan Nasional Sawit Indonesia, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sri Mulyani menuturkan, sebuah penelitian dari Bank Dunia pada 2015 lalu, sumber kebakaran hutan berasal dari sawit. Lanjut dia, estimasi kerugian dari kebakaran hutan dan kabut asap adalah setara dengan 1,9% terhadap GDP Indonesia pada 2015, serta lebih dari 500 ribu masyarakat terserang gangguan pernapasan atau ISPA, serta 19 jiwa meninggal dengan perkiraan biaya kesehatan Rp 2,1 triliun.

"Jadi kerugian hutan 1,9% itu setara US$ 16,1 miliar, dibanding penerimaan pajak atau total penerimaan ekspor produk sawit yang US$ 17,8 miliar, bisa dikatakan habis semua penerimaan itu dengan kerugian yang sangat memukul masyarakat, yang untung adalah beberapa perusahaan, karena ongkos US$ 16,1 miliar kerugian ditanggung oleh ribuan manusia dan masyarakat," tambahnya.

Belum lagi, kata Sri Mulyani, kebakaran hutan karena kelapa sawit juga menyebabkan kerugian waktu, karena ada beberapa bandara kegiatannya ditutup karena kabut asap, sektor ini diperkirakan kerugiannya mencapai Rp 54 triliun.

"Situasi ini bukan masalah kalkulasi, tapi headline diseluruh dunia, yang pasti akan menyebabkan makin sulitnya industri kelapa sawit lakukan penetrasi positif. Akan makin sulit bagi kita melakukan kampanye positif mengenai sustainability kepala sawit," tambahnya.

Dengan forum pertemuan ini, lanjut Sri Mulyani, diharapkan pandangan atau aspek negatif dari banyak kalangan termasuk global menjadi bahan evaluasi agar pengelolaan industri kelapa sawit terutama di Indonesia dengan baik, dari hulu sampai ke hilir.

"Untuk perbaiki tata kelola, dan manajemen dari kegiatan sawit, dari hulu sampai hilir, baik seluruh dimensi, dari manusia, petani, pekerja, sampai dimensi sosial dan lingkungan yang perlu dijaga," kata dia.

Dengan adanya perbaikan, generasi yang akan datang tidak diwariskan permasalahan yang sama seperti yang sudah terjadi sekarang.

"Kita mampu mengurus kebijakan yang baik dan mampu kemudian tidak hanya meyakinkan dunia luar, tapi yang penting masyarakat Indonesia sendiri, dan memang memberikan benefit, baik sosial. Ini konsisten dengan tujuan negara kita meciptakan negara yang adil dan makmur yang tidak menguntungkan satu kelompok," tandasnya. (mkj/mkj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads