Sudah Impor, Kok Harga Gula Tetap Mahal?

Sudah Impor, Kok Harga Gula Tetap Mahal?

Yulida Medistiara - detikFinance
Jumat, 10 Feb 2017 15:47 WIB
Sudah Impor, Kok Harga Gula Tetap Mahal?
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Upaya pemerintah untuk menstabilkan harga gula spertinya belum membuahkan hasil. Sepanjang tahun 2016, terutama saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga gula menembus harga Rp 14.000/ kg, padahal pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500/ kg.

"Padahal Bulog (Perum Bulog) juga saat itu mengantongi izin impor 100 ribu Ton White Sugar dan ditambah impor Raw Sugar 267 ribu ton," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikoen dalam keterangannya, Jumat (10/2/2017).

Sekjen DPN APTRI Nur Khabsin menambahkan, ketika rencana impor digulirkan tahun lalu, Kementerian BUMN menjanjikan kompensasi kepada petani berupa rendemen 8,5 %. Harapannya, tebu dari petani lebih banyak diserap sekaligus bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa perlu impor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, menurut dia, janji tersebut tak kunjung terlaksana.

"Impornya jalan terus rendemennya tetap di kisaran angka 5-6% saja," sambung dia.

Menurut keterangan resmi pemerintah, tingginya harga gula nasional akibat kurangnya stok gula nasional. Karena itu perlu kebijakan import. Tahun 2016 Kementerian BUMN menugaskan Bulog untuk mengimpor 100ribu Ton White sugar dan raw sugar 267 ribu ton.

"Impor tersebut selain mengakibatkan petani tebu merugi, juga tidak berpengaruh pada stabilisasi harga gula di tingkat eceran. Anehnya lagi, sebagian gula impor tersebut saat masih berada di gudang," pungkas Soemitro. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads