Follow detikFinance
Senin, 13 Feb 2017 21:37 WIB

RI-AS Jajaki Kerja Sama Industri Lewat Perjanjian Bilateral

Yulida Medistiara - detikFinance
Foto: Dok. Kementerian Perindustrian Foto: Dok. Kementerian Perindustrian
Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, bertemu Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Joseph R. Donovan, di Kementerian Perindustrian, Senin (13/2/2017). Dalam pertemuan ini dibahas peningkatan hubungan kerja sama ekonomi Indonesia dan AS lewat kerja sama bilateral.

Sehingga memacu investasi dari Negeri Paman Sam sekaligus memperluas pasar ekspor bagi produk industri dalam negeri.

"Karena menurut Pak Dubes, orientasi Amerika saat ini adalah pada perjanjian bilateral. Untuk itu, kami menyampaikan, perdagangan kedua negara harus ditingkatkan. Bagi Indonesia, Amerika menjadi salah satu pasar yang sangat strategis," kata Airlangga seusai bertemu Dubes AS.

Kemenperin mencatat, Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama ketiga Indonesia setelah China dan Jepang dengan nilai total perdagangan pada periode Januari-Juli tahun 2016 mencapai US$ 13,02 miliar. Dari neraca perdagangan tersebut, Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 5,23 miliar atau naik 1,75 persen dibanding tahun 2015 yang hanya mencapai US$ 5,14 miliar.

Menurut Airlangga, kerja sama kedua negara khususnya di sektor industri perlu ditingkatkan lagi karena bersifat saling melengkapi.

"Selama ini, investasi Amerika masuk ke Indonesia utamanya di sektor industri padat modal dan teknologi. Sedangkan, Indonesia dapat mengisinya melalui industri yang cukup berdaya saing seperti kelompok sektor tekstil, pengolahan karet, kulit, barang kulit dan alas kaki, serta makanan dan minuman," ujar Airlangga

Airlangga tengah mendorong perjanjian bilateral untuk meningkatkan ekspor industri tekstil Indonesia ke AS.

"Saat ini, produk tekstil kita kena bea masuk di sana sebesar 12,5 persen. Sedangkan, Vietnam sudah nol persen karena ada agreement kedua negara. Jadi, perjanjian tersebut juga akan mendongkrak daya saing produk kita," ungkapnya.

Nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2016 sebesar US$ 9,13 miliar. Adapun kelompok hasil industri yang juga memiliki nilai ekspor dengan tren positif, antara lain industri pengolahan kelapa sawit, furniture, pulp dan kertas, barang-barang kerajinan, elektronika, serta pengolahan alumunium.

Airlangga juga meminta investor AS dapat terus berkontribusi menanamkan modalnya di Indonesia terutama untuk memenuhi beberapa kawasan industri yang telah tersedia. Misalnya, kawasan industri di Dumai dan Tanjung Buton, Riau. Selanjutnya, kawasan industri di Berau-Kalimantan Timur, Gresik-Jawa Timur, Kendal-Jawa Tengah, serta Morowali-Sulawesi Tengah.

"Di Sulawesi, kami fokuskan untuk industri pengolahan mineral serta di Riau dan Kalimantan Timur menjadi kawasan industri untuk pengolahan CPO," terang Airlangga.

Dia juga berharap, tahun ini ada tambahan investasi atau ekspansi yang terealisasi dari pelaku industri AS. Contohnya, Apple yang akan membangun pusat inovasi di Indonesia.

"Pada semester pertama ini, innovation center mereka segera beroperasi. Mereka juga janji akan bangun lebih di tiga kota. Ini akan mendorong investasi berikutnya," paparnya.

Industri potensial AS

Airlangga menilai, beberapa industri potensial AS yang perlu dijajaki kerja sama dengan pelaku usaha dalam negeri, seperti sektor migas, mineral, pembangkit listrik, transportasi, dan telekomunikasi.

"Untuk industri sepatu merek Nike, Indonesia telah menjadi salah satu produsen terbesar," jela Menperin.

Merujuk data BKPM, pada kuartal kedua tahun 2016, AS telah berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia sebanyak 73 proyek industri senilai USD24,4 juta di sektor-sektor industri makanan dan minuman, logam, permesinan dan elektronika, kimia, industri farmasi dan lain-lain.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), Harjanto, menambahkan untuk mengembangkan hubungan perdagangan dan investasi RI-AS, terdapat forum Trade Investment Council (TIC) tingkat menteri guna membahas dan menyelesaikan berbagai isu perdagangan dan investasi kedua negara.

"TIC terdiri dari empat Working Group, yaitu WG on Industrial and Agricultural Products, WG on Illegal Logging and Associated Trade, WG on Intellectual Property Rights, dan WG on Investment," ungkapnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Harjanto, RI dan AS telah sepakat untuk membentuk Commercial Dialogue (CD) sebagai pelengkap makanisme kerja sama yang telah ada. Commercial Dialogue merupakan kerja sama yang saling menguntungkan dan mengedepankan peran sektor swasta dalam memanfaatkan peluang investasi dan perdagangan antara kedua negara.

Format dialog tersebut disepakati dalam dua track, yaitu pembahasan cross cutting issues dan issue per sektor.

"Dialog diusulkan untuk fokus pada beberapa area kerjasama yaitu investment climate, trade expansion, small and medium enterprises, entrepreneurship, clean energy dan industrial cooperation," pungkasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed