Follow detikFinance
Jumat 17 Mar 2017, 11:52 WIB

Ingin Lulusan SMK Diserap Industri, RI Perlu Belajar dari Jerman

Muhammad Idris - detikFinance
Ingin Lulusan SMK Diserap Industri, RI Perlu Belajar dari Jerman Foto: Putri Akmal
Jakarta - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja lewat pendidikan vokasi atau kejuruan. Program sekolah kejuruan yang saat ini coba diterapkan di Indonesia mengadopsi konsep pendidikan vokasi di Jerman.

Andreas Gosche, Koordinator Program Kemitraan Pendidikan Kejuruan Indonesia Industrie und Handelskammer Trier, menjelaskan salah satu kemapanan Jerman dalam mengelola pendidikan vokasi karena proses magang benar-benar diterapkan, dengan persentase praktik sampai 70% dan sisanya teori di kelas.

"Yang terjadi di lapangan 50-70%, sisanya duduk di sekolah karena orang terampil mulai bisa kerja," kata Gosche kepada detikFinance ditemui di Hotel Kartika Candra, Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Dia menganalogikan pendidikan vokasi di Jerman seperti halnya orang yang ingin mendaftar SIM. Teori tetap dilaksanakan, namun praktik diutamakan.

"Latar belakang pelatihan jika orang mau jadi terampil tidak cukup belajar teori saja di kelas tapi harus praktikan. Pada waktu buat SIM kendaraan, untuk tes teori tak masalah, tapi saat naik mobil koordinasi rem dan persneling butuh waktu," ungkap Gosche.

Selain itu, di Jerman kurikulum pendidikan vokasi dibuat oleh industri, sehingga lulusan dari sekolah kejuruan bisa langsung terserap industri karena sesuai kebutuhannya. Selain itu, praktik magang di perusahaan juga benar-benar diterapkan.

"Meskipun menguasai teori, artinya orang baru bisa kerja jika pada saat pendidikan sudah diberikan keterampilan itu. Artinya mau belajar langsung di tempat kerja, Indonesia belum kenal itu. Di industri ada mendampingi dengan baik," tutur Gosche. (idr/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed