Andreas Gosche, Koordinator Program Kemitraan Pendidikan Kejuruan Indonesia Industrie und Handelskammer Trier, menjelaskan salah satu kemapanan Jerman dalam mengelola pendidikan vokasi karena proses magang benar-benar diterapkan, dengan persentase praktik sampai 70% dan sisanya teori di kelas.
"Yang terjadi di lapangan 50-70%, sisanya duduk di sekolah karena orang terampil mulai bisa kerja," kata Gosche kepada detikFinance ditemui di Hotel Kartika Candra, Jakarta, Jumat (17/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Latar belakang pelatihan jika orang mau jadi terampil tidak cukup belajar teori saja di kelas tapi harus praktikan. Pada waktu buat SIM kendaraan, untuk tes teori tak masalah, tapi saat naik mobil koordinasi rem dan persneling butuh waktu," ungkap Gosche.
Selain itu, di Jerman kurikulum pendidikan vokasi dibuat oleh industri, sehingga lulusan dari sekolah kejuruan bisa langsung terserap industri karena sesuai kebutuhannya. Selain itu, praktik magang di perusahaan juga benar-benar diterapkan.
"Meskipun menguasai teori, artinya orang baru bisa kerja jika pada saat pendidikan sudah diberikan keterampilan itu. Artinya mau belajar langsung di tempat kerja, Indonesia belum kenal itu. Di industri ada mendampingi dengan baik," tutur Gosche. (idr/hns)











































