Follow detikFinance
Jumat 17 Mar 2017, 12:51 WIB

Sedang Uji Coba, Pabrik Semen di Rembang Menunggu Diresmikan

Imam Wahyudiyanta - detikFinance
Sedang Uji Coba, Pabrik Semen di Rembang Menunggu Diresmikan Foto: Imam Wahyudiyanta
Rembang - Sejak izin lingkungan PT Semen Indonesia pabrik Rembang dicabut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada 16 Januari 2017, praktis tidak ada aktivitas yang dilakukan. Namun, setelah izin lingkungan kembali diberikan pada 23 Februari 2017, geliat aktivitas kembali mewarnai pabrik paling baru milik Semen Indonesia itu.

"Sebelum izin lingkungan dicabut, kami sebenarnya sudah melakukan uji coba (comissioning) pada Desember," ujar Head of Rembang Project Heru Indra Widjajanto kepada detikcom di pabrik Rembang, Kamis (16/3/2017).

Proses comissioning mutlak diperlukan sebelum pabrik bisa berproduksi penuh. Comissioning direncanakan akan dilakukan hingga awal April. Comissioning pada bulan Desember, kata Heru, sudah menghasilkan 11 ribu ton semen.

Pabrik PT Semen Indonesia di RembangPabrik PT Semen Indonesia di Rembang Foto: Imam Wahyudiyanta

Saat berjalan pada Januari, comissioning terpaksa dihentikan pada 16 Januari 2017 karena ada pencabutan izin lingkungan. Comissioning berjalan kembali saat izin lingkungan kembali diberikan pada 23 Februari 2017.

"Kami menargetkan bisa memproduksi 30 ribu ton semen hingga akhir Maret 2017," lanjut Heru.

Karena izin penambangan belum keluar, maka pabrik mendatangkan bahan utama pembuat semen yakni tanah liat (clay) dan lime stone (batu kapur) ke pabrik Rembang dari Tuban. Selain itu, didatangkan juga semen setengah jadi (clinker), juga dari Tuban, untuk kemudian dicampur gipsum dan trash agar menjadi semen.

"Jadi hingga sekarang tidak ada bahan yang kami tambang. Seluruh proses produksi menggunakan bahan-bahan yang kami datangkan dari Tuban," kata Heru.

Pabrik PT Semen Indonesia di RembangPabrik PT Semen Indonesia di Rembang Foto: Imam Wahyudiyanta

Dari pengamatan detikcom, pabrik yang terlihat sepi saat izin lingkungan dicabut itu kini sudah hiruk pikuk. Di areal pabrik terlihat lalu lalang pikap dan motor para pekerja. Truk juga terlihat hilir mudik membawa material mentah menuju areal jalan masuk ke pabrik. Suara mesin produksi juga terdengar hingga ke Central Control Room (CCR), satu-satunya gedung perkantoran yang berdiri sementara ini.

Heru menegaskan bahwa pabrik Rembang setelah comissioning siap untuk berproduksi penuh. Pabrik Rembang dalam setahun mampu menghasilkan semen hingga 3 juta ton.

"Kami hanya menunggu peresmian saja," tandas Heru.

Pabrik PT Semen Indonesia di RembangPabrik PT Semen Indonesia di Rembang Foto: Imam Wahyudiyanta


Khawatir Air di Pabrik Hilang

Selain sudah menggelar uji coba, ada yang dikhawatirkan dari berdiri dan beroperasinya pabrik PT Semen Indonesia di Rembang adalah hilangnya air dari kawasan tersebut akibat penambangan. Kekhawatiran itu diitepis oleh Dr Budi Sulistijo selaku penyusun analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pabrik PT Semen Indonesia di Rembang.

Budi mengatakan, air justru bertambah banyak pascakegiatan penambangan. Bekas tambang tanah liat (clay) menjadi danau (embung). Bekas tanah tambang yang berupa kapur malah bisa ditanami pohon. Padahal sebelum ditambang, tanah kapur itu hanya bisa ditumbuhi semak belukar. Budi menyebut bahwa itu telah terbukti di pabrik Semen Gresik di Tuban. Begini gambarannya.

Pabrik Semen Gresik di Tuban mulai beroperasi pada 1994. Sejak itu penambangan telah dimulai. Penambangan dilakukan untuk mengambil bahan dasar utama semen yakni tanah liat (clay) dan batu kapur (lime stone). Penambangan awal clay dilakukan di Tlogowaru yang meliputi Desa Tlogowaru, Temandang, Pongpongan, Sembungrejo, dan Sugihan. Dan penambangan awal batu kapur dilakukan di Temandang yang meliputi Desa Temandang, Pongpongan, dan Sumberarum.

Lahan Pabrik PT Semen IndonesiaLahan Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang Foto: Imam Wahyudiyanta

Sebelum melakukan penambangan, dibuatlah green belt berupa tanaman keras seperti trembesi yang ditanam di pinggir wilayah tambang, termasuk jalan. Guna atau fungsi dari green belt adalah meminimalkan dan menangkap debu hasil pertambangan dan transportasi material tambang.

Tambang clay mempunyai luas 250 hektar sementara tambang batu kapur mempunyai luas 797 hektar. Hingga saat ini, sebagian besar clay sudah ditambang di Tlogowaru dan menyisakan cadangan sekitar tujuh tahun ke depan. Bekas tambang clay telah berubah menjadi embung. Ada delapan embung yang telah terbentuk.

"Desa tlogowaru ini dulu sering banjir karena letaknya yang rendah. Air mengalir begitu saja tanpa ada yang tertampung," ujar Kepala Departemen Produksi Bahan Baku PT Semen Gresik Pabrik Tuban Musiran saat bertemu dengan wartawan dan netizen Rabu (15/3/2017) kemarin.

Lahan pabrik PT Semen Indonesia di RembangLahan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang Foto: Imam Wahyudiyanta

Air dari embung dipompa dan dialirkan ke sawah para petani. Persoalan air di musim kemarau pun teratasi. Bahkan petani Tlogowaru kini bisa panen padi tiga kali dalam setahun. Dan tak hanya padi, tanaman produktif lain juga bisa ditanam warga seperti cabai, mangga, sukun, dan lain sebagainya.

"Syukurlah air dalam embung belum pernah kering. Pompa untuk mengalirkan air, kami yang menyediakan. Selain digunakan untuk pengairan, embung juga dimanfaatkan warga untuk membudidayakan ikan menggunakan keramba," kata Musiran.

Untuk tambang batu kapur, perlakuan untuk konservasinya adalah dengan cara reklamasi. Reklamasi dilakukan pertama kali dengan menutup permukaan (lantai) bekas tambang dengan soil (tanah). Ketinggian tanah yang ditimpakan ke batu kapur sekitar 30-60 cm. Pada tanah itu kemudian ditanami pohon jati.

Reklamasi pada tambang batu kapur tidak hanya dilakukan pada lantai tambang saja, tetapi juga pada lereng dan green belt. Ada sekitar 174.445 pohon yang sudah ditanam seperti jati, mahoni, johar, jabon, gmilina, sono, sengon, buto, kesambi, angsana, mimba, kepoh, jaranan, trembesi, juwet, lamtor, keres, nangka, alpukat, sukun, dan mangga.

"Dengan adanya pohon, berarti air bisa ditangkap. Padahal dulu saat masih berupa batu kapur, air hujan terbuang begitu saja. Tanahnya tidak bisa ditanami pohon, hanya tumbuh semak saja," terang Musiran.

Lahan pabrik PT Semen IndonesiaLahan pabrik PT Semen Indonesia Foto: Imam Wahyudiyanta

Jika dilihat dari atas, memang tampak sekali adanya kontras antara lahan tambang batu kapur dan lahan tambang batu kapur yang telah direklamasi. Di satu sisi hanya terlihat hamparan putih gersang sementara di sisi lain terlihat warna hijau subur. Musiran mengatakan bahwa sistem konservasi alam di pabrik Tuban juga akan diaplikasikan pada pabrik di Rembang karena kontur dan kondisi alamnya yang kurang lebih sama.

"Iya, akan dilakukan di pabrik Rembang juga," kata Musiran.

Hal itu juga ditegaskan oleh Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Agung Wiharto. Agung mengatakan bahwa dari dulu pihaknya sangat peduli dengan alam. Pabrik di Tuban adalah bukti yang sudah terlihat nyata.

Embung dibangun PT Semen IndonesiaEmbung dibangun PT Semen Indonesia Foto: Imam Wahyudiyanta

Bahkan sebuah embung sudah dibuat di Desa Tegaldowo tanpa perlu menunggu tanahnya ditambang. Tegaldowo sering kebanjiran jika musim hujan karena tanahnya tak bisa menangkap air. Embung Tegaldowo yang mempunyai luas 1,3 hektar mempunyai volume tampungan sebanyak 16 ribu meter kubik dengan luasan daerah tangkapan air seluas 279 hektar.

Selain sebagai pengendali banjir, embung ini juga berfungsi sebagai pengairan untuk sekitar 22 hektar lahan pertanian

"Ada dua embung lagi yang menjadi prioritas kami berikutnya yakni embung di Desa Maguan dan Kumendung," kata Agung. (iwd/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed